Senin, 19 Desember 2011

Lelaki Dalam Lelah


Lelaki berdiri dalam diam. Tubuhnya tegak, matanya menerawang keluar jendela kaca yang menjadi pigura dari rumput hijau dan aneka perdu berbunga kuning, putih dan ungu. Dia diam meskipun hatinya riuh rendah dengan berbagai rasa. Ada lelah dan putus asa yang merontokkan semangatnya. Tapi ada pula harapan dan rindu yang berpendar...... Ia berharap, asa dan rindu yang tertunai bisa menyilih lelah dan putus asa yang menghimpitnya.

Pria itu masih tetap tegak dalam keheningan siang. Matanya menerawang jauh, tapi pandangannya mengesankan pancaran wajah lesu yang senada dengan warna abu-abu rambutnya. Kemeja putih dan dasi merah tua yang seharusnya mencerahkan penampilannya, ternyata tak mampu mengangkat mendung dari wajahnya. Dering nada panggil alat komunikasi menjerit, memaksa Lelaki bangun dari pandangan jauhnya. Dengan pasti ia merogoh saku dan mengangkat ponsel ketelinganya. Tak sedikitpun matanya menoleh pada beberapa alat komunikasi lainnya yang berjajar manis diatas meja.

"Ya, halo...," sapanya dengan mata sedikit berbinar.
"Aku sudah baca pesan singkatmu. Aku harus menemuimu sekarang? Begitu pentingkah?" suara empuk Perempuan seperti membelai indera pendengarannya.
"Aku minta tolong. Ini penting untukku," Lelaki berkata setengah memohon.
"Apa yang terjadi?"
"Aku butuh kehadiranmu...."
"Baik. Kemana aku harus pergi?"
"Sebutkan dimana orangku bisa menjemputmu."
Suara di seberang sana menyebutkan nama suatu tempat sebelum mengakhiri pembicaraan. Kemudian Lelaki bergegas menggapai salah satu alat komunikasi yang berjajar dimeja. Mengangkatnya, lalu melontarkan sederet kalimat bernada instruksi.

Lelaki terdiam lagi. Kali ini ia duduk menyandar pada sofa tebal berwarna coklat tua. Sebelah tangannya mulai naik kewajah, jarinya bergerak memijit pelipisnya yang mengerut. Tak lama kemudian tangannya berhenti memijit, dan ia menyandarkan kepala di ujung sofa, lalu memejamkan mata. Satu persatu gambaran peristiwa dan kejadian melintas dikepala, seperti merajam ingatan dan menyesakkan hatinya.

Betapa sulitnya ia berdiri sendiri kini, bertahan dari arus deras yang sama sekali berlawanan dengan nilai-nilai budi yang diyakini dan dipertahankannya sejak dulu. Dua tahun lalu, ia sudah dihadapkan pada keraguan itu. Tapi setelah begitu banyak orang berharap kepadanya, ia menghilangkan dengan paksa keraguan itu. Bersikap siap terhadap segala situasi dan kondisi yang akan muncul, tanpa mengira bahwa kondisi yang ada ternyata lebih buruk daripada yang dibayangkannya. Tanggung jawab yang harus dipikulnya ternyata tak seindah dan semudah gegap gempita yang tercipta saat rakyat, katanya, berpesta dialam kebebasan berbicara ala negara adidaya.

Ia lelah berdiri sendiri menantang arus. Sementara disekitarnya begitu banyak sosok yang siap membuka mulut untuk menyanjungnya demi suatu kemudahan. Tak jarang sanjungan itu disertai ikutan dalam berbagai ragam bentuk. Bentuk makhluk hidup, bentuk benda mati, atau bahkan tanpa bentuk, tapi menjanjikan kecemerlangan masa depan dunia. Pun, begitu banyak mata yang memandangnya seperti mengancam dengan semburan sederet kata dan opini tak berkesudahan. Dan sejak saat itu, ia merasa harus selalu curiga pada setiap kata yang diucapkan oleh lawan bicara. Kebiasaan baru yang kemudian menjadi penyakit dihatinya, saat ia merasa harus selalu waspada dengan semua yang mengelilinginya. Keadaan menjadi semakin sulit ketika seorang yang seharusnya menjadi sandaran hati ternyata telah jauh melangkah meninggalkannya. "Lebih pejabat daripada suaminya..." Itu bisik-bisik yang pernah ia dengar tentang perempuan yang menjadi ibu dari anak-anaknya.



 
Suara pintu mobil tertutup membuat matanya terbuka. Ia memperkirakan beberapa saat setelah ini pasti ia akan mendengar suara ketukan sepatu di atas lantai marmer berwarna putih kekuningan. Benar saja, akhirnya terdengar suara langkah kaki dalam ketukan pelan tapi pasti, mengiringi sosok berbalut warna biru muda yang melangkah ke arahnya.

"Kau terlihat kacau......," suara Perempuan  menyapa sesaat setelah mengucapkan salam.
"Untuk itulah aku mengundangmu...," sahut Lelaki. Tampaknya mendung mulai bersiap meninggalkan wajahnya.
"Aaah.... kau pikir aku penyapu ranjau?" Perempuan tertawa. Wajahnya cerah, senada dengan suara riang yang terlontar dari mulutnya.

Perempuan duduk di sofa dihadapannya, tak ada keraguan sedikitpun dalam setiap gerak dan interaksinya dengan Lelaki. Semuanya mengalir apa adanya, tanpa sekat kecanggungan. Lelaki diam menatap Perempuan yang bertanya dan berkata ini itu kepadanya, sementara ia menanggapi dan menjawab sekedarnya. Tak penting dengan isi kata-kata yang mengemuka, karena ia hanya butuh kehadiran Perempuan untuk mengurai kepenatan dalam dirinya dan menyilih rindu perasaannya. Hanya pada Perempuan ia bisa bersikap sebagaimana adanya dia, tanpa waswas dan tak ada bahaya. Ia percaya.

Perempuan masih berbicara, bercerita tentang suatu hal yang hanya didengarnya setengah-setengah. Telinganya hanya menangkap beberapa patah kata yang keluar dari bibir merah jambu Perempuan. Lebih menyenangkan baginya melihat seluruh gerak-gerik dan menikmati wajah yang sejak beberapa waktu ini merambah dan menjejaki relung hatinya. Ia lupa sejak kapan ia mulai memiliki rasa yang mengganggu itu. Yang ia tahu, telah bertahun-tahun Perempuan menjadi temannya berbicara, berdiskusi, dengan siapa ia seringkali saling bantah dan bersilang-kata. Rasa itu kian mengganggu ketika ia merasa kehilangan tempat bersandar, ketika belahan jiwanya lebih jauh melangkah daripada dirinya. Dan saat ia menyesali diri sebagai laki-laki yang tak berdaya mengendalikan laju wanita yang disebut istrinya.

"Hei.... dari tadi aku seperti bicara sendiri," suara Perempuan tiba-tiba menyadarkan Lelaki dari pikiran dan pendengaran yang mengembara entah kemana, sementara hanya mata yang masih bekerja menangkap gambaran Perempuan dihadapannya.
"Aku mendengarkan kamu......," Lelaki menjawab sekenanya.
"Apa yang aku katakan tadi?" Perempuan menguji.
"Apa....?" Lelaki balik bertanya, membuat Perempuan mengernyitkan dahi menatap Lelaki dengan pandangan prihatin.
"Kau benar-benar kacau......," Perempuan menggeleng-gelengkan kepala. "Kupikir kau perlu rehat. Pergilah kesuatu tempat. Lupakan dulu semua masalahmu......."
"Seandainya aku bisa pergi bersama kamu?" Lelaki memandang Perempuan dengan tatapan memohon.
"Tak mungkin......," Perempuan tersenyum menatap Lelaki.

Lelaki menghela nafas sejenak, lalu bangkit melangkah kearah Perempuan. Meraih  Perempuan kedalam rengkuhan tangannya, mendekap wanita itu ke dada dan lingkar lengannya. Ia mencari kesejukan dalam diri Perempuan sembari menghirup wangi rambut legam yang rapat diujung hidungnya. Tapi sayang, lamunan indah itu terputus oleh suara renyah Perempuan.
"Pergilah, ajak istrimu. Umroh, mungkin? Atau sekedar menjenguk kampung halamanmu? Sudah berapa lama kau tak mudik?"  Perempuan masih berceloteh, duduk tegak diseberang meja.
"Ya.... Mungkin sebaiknya kupertimbangkan saranmu," Lelaki menjawab sambil berusaha menyusun kembali lamunan yang terputus tadi, yang terlalu indah untuk dihentikan begitu saja.
"Aku harus kembali.......," kata Perempuan setelah melirik penanda waktu di pergelangan tangan kirinya.
"Sebentar lagi......?" Lelaki bertanya dan meminta.
"Maaf atas keterbatasanku..... Anakku sudah menunggu disekolahnya," Perempuan bangkit dari duduknya dan tersenyum lembut meminta pengertian.
"Terima kasih, untuk kehadiranmu memenuhi permintaanku," sambut Lelaki seraya tersenyum tak berdaya.
"Itu gunanya seorang sahabat, bukan?" Perempuan tertawa kecil, bersiap melangkah keluar sambil mengucapkan salam pamit.

Suara sepatu Perempuan berirama mengetuk lantai marmer. Rindu itu belum habis tertunai, tapi sebaliknya malah meninggalkan jejak dalam rasa Lelaki. Jejak tentang keinginan untuk selalu dekat dan menyandarkan  beban hati, untuk mengaburkan sedikit kelelahan batinnya. Suara pintu mobil tertutup menyentuh telinganya, diikuti suara mesin menderum halus. Meyakinkan Lelaki, bahwa Perempuan akan segera kembali ketempat yang seharusnya. Dan Lelaki menghela nafas, mengusap wajah dengan kedua tangan. Tiga tahun lagi..... semoga waktu cepat berlalu, katanya dalam hati. Lalu ia kembali berkubang dalam lelahnya. Sendirian.


Pondok Gede - 19012012

































Tidak ada komentar:

Posting Komentar