Selasa, 02 April 2013

Cinta Tragis "Raumanen"



Novel terbitan Gaya Favorit Press tahun 1977 ini kutemukan di rak buku di rumah orangtuaku. Ketika aku 'mudik' memanfaatkan long week end. Sebenarnya, aku bukan mencari novel ini, karena  niatku adalah menemukan sebagian dari trilogi karya Ashadi Siregar ; 'Cintaku Di Kampus Biru' dan 'Kugapai Cintamu' (minus 'Terminal Cinta Terakhir' yang sudah kubaca ulang via e-book). Syukur-syukur kalau kutemukan juga 'Sirkuit Kemelut'. Karena seingatku, dulu Bapakku adalah penggemar karya Ashadi Siregar.

Novel yang sengaja kucari ternyata tak kutemukan. Mungkin aku harus membongkar rak buku lainnya, yang butuh banyak waktu. Tapi novel karya Marianne Katoppo ini sepertinya layak juga dibaca ulang. Dulu, aku pertama kali membaca novel ini saat duduk di kelas satu atau dua SMP. Ditanganku, sampul novel ini masih utuh dan licin.... Karena disimpan dengan baik oleh Ibuku yang membelinya pada tahun 1981 (ini kuketahui dari angka tahun yang tertera disamping tandatangan Ibuku di halaman awal buku). Hanya kertas isinya yang kusam kekuning-kuningan dimakan usia.

Membaca ulang novel ini, membuat aku menarik kesimpulan bahwa pada tahun 70-an, karya dengan setting dunia mahasiswa tampaknya adalah trend pada masa itu. Hampir sebangun dengan  'Cintaku di Kampus Biru' yang juga berlatarbelakang dunia kampus. Bedanya, 'Raumanen' ditulis dengan lebih halus - mungkin karena penulisnya seorang wanita. Sedangkan 'Kampus Biru' lebih bernuansa tegas, lincah dan sangat terbuka.

Dulu diawal masa remajaku, aku membaca 'Raumanen' dengan cara sederhana. Membaca kata per kata, kalimat per kalimat, hanya untuk tahu bagaimana akhir kisah cinta pertama Raumanen Rumokoi, mahasiswi berdarah Minahasa yang pintar dan lugu, dengan  Hamonangan Pohan,  insinyur yang playboy tapi tunduk pada kemauan adat melalui perintah ibunya. Pun dulu aku tak terlalu menyelami karakter masing-masing tokoh utama novel ini.

Tapi sekarang, dengan membaca ulang novel ini, aku memperoleh banyak pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Tentang ke'bhinekaan' Indonesia, tentang orangtua yang keukeuh memberlakukan adat dan menganggap bahwa seorang anak lahir ke dunia untuk memenuhi keinginan ideal orangtua - dalam novel ini diwakili oleh ibunda Monang sang insinyur.

Ada pula pesan tentang seorang lelaki dewasa yang tak mampu memperjuangkan cintanya kepada gadis berbeda suku, yang sebaliknya, keluarganya demikian terbuka menerima perbedaan itu. Ketidakmampuan Monang keluar dari kungkungan adat dan tuntutan ibunya itulah, yang membawa duka lara pada diri Raumanen. Menunjukkan betapa rapuh sebenarnya karakter Monang, dan Raumanen menjadi akibat dari lemahnya Monang.

Akan halnya Raumanen. Ia adalah seorang gadis delapan belas tahun yang belum pernah mengenal cinta sebelumnya. Tapi karena keluguannya (atau karena kepintaran Monang merayu?), ia terjerat pada hubungan yang meragukan, karena Monang tak pernah berucap cinta padanya. Meskipun tindakan Monang telah dengan jelas menunjukkan kesungguhan untuk membawa Raumanen kearah pernikahan. Terlebih setelah Monang tahu bahwa Raumanen mengandung anaknya.

"Aku cuma berusaha menerangkan," kata Monang lesu. "Jangan begitu perasa, pemarah. Pendapat orang tuaku itu bukan pendapatku sendiri. Kau harus tahu itu. Tetapi kau juga harus mengerti betapa sulitnya bagiku berbicara dengan mereka, melihat bahwa setiap perkataanku seakan-akan batu tajam yang merajam hati mereka..."

"Kalau orang tuamu begitu ingin mempertahankan kemurnian adat," kata Manen sinis, "mengapa mereka tak menyimpanmu dalam lemari kaca sejak kecil? Mengapa engkau tak ditahan saja di Tarutung sana, tetapi dikirim ke Jakarta, ke Bandung, untuk bersekolah? Sebaiknya mereka tetap mengurungmu di bawah tempurung kesukuan..."

Bagi Raumanen yang dibesarkan dalam keluarga yang religius, cinta adalah datang dari Tuhan. Dan melihat Monang yang tak menghiraukan keberadaan Tuhan, maka Raumanen percaya bahwa Monang tak punya cinta untuknya. Ia merasa, niat Monang untuk menjadikannya istri adalah sekedar keterpaksaan karena benih yang telanjur tertanam di rahimnya. Ditambah lagi dengan kenyataan, bahwa rumah baru yang sedianya adalah rumah masa depan mereka berdua, ternyata kemudian ditempati oleh ibu dan adik-adik Monang. Dan pada suatu malam ia mendatangi rumah Monang yang tengah berpesta, tapi lelaki itu tak mengundangnya masuk, apalagi memperkenalkan dirinya yang sudah mengandung anak Monang.

Hal-hal itu membuat Raumanen putus asa. Ia menyimpan sendiri masalahnya, karena sadar itu adalah kesalahan yang ia buat sendiri. Kesalahan yang nyata, karena sebelum terlibat terlalu jauh dengan Monang ia sudah tahu reputasi Monang yang playboy, dan untuk itu beberapa kerabat dan teman sudah berusaha memagarinya. Tapi toh ia nekad menerobos pagar itu demi Monang.

Puncak keputusasaan Raumanen adalah ketika dokter memastikan bahwa janin yang dikandungnya tak akan lahir dengan sehat karena penyakit yang dibawa Monang akibat pergaulan bebas. Gadis muda yang tadinya optimis, realistis dan penuh cita-cita itu tak mampu berpikir sehat. Ia merasa benar-benar bersalah, terhina, dan kebanggaannya hancur tak bersisa. Ia menolak saran dokter untuk melakukan abortus provocatus, dan memilih sendiri cara kematian bersama janinnya. Sebilah pisau dan guratan di pergelangan tangan mengakhiri keputusasaan Raumanen. Tragis.

Raumanen ;  Aku tersenyum dalam kegelapan itu. Biarlah didobraknya pintu itu. Biarlah mereka menyerbu masuk. Menyeret tubuhku keluar nanti. Apa yang terjadi, sudah terjadi. Hukuman sudah dilaksanakan.
Kujatuhkan barang mati, yang tadinya kugenggam kuat-kuat, ke lantai. Kurebahkan diriku ke ranjang, seraya mengangkat tangan sekedar penutup wajahku, yang tiba-tiba disoroti cahaya putih gemilang.
Tetapi, tanganku itu berlumuran darah! Aku menjerit - tetapi darah itu masuk ke dalam mataku, mulutku, hidungku... Seluruh duniaku menjadi darah, menjadi merah! Dan aku ditelan kemerahan itu...

Monang ;  Jangan kau harapkan cucu dariku! Inilah upah kekerasan hatimu! Ganjaran yang kau terima bagi kecongkakanmu... Dulu kau tak sudi mengaku anakku sebagai cucumu, bila darahnya bukan darah Batak murni. Berbahagialah kau sekarang dengan kemurnianmu : sombu ma roham, inang. Satu-satunya anakku, satu-satunya cucu yang pernah dapat kuberikan kepadamu, sudah lama mati! Mati! Dibunuh Raumanen dalam keputusasaannya sepuluh tahun yang lalu!

Sebagai novel yang meraih penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta tahun 1975, novel ini memang menghanyutkan. Pada awal cerita, begitu lincah dan segar menggambarkan keceriaan Raumanen dan dunia mahasiswanya dengan dialog-dialog yang cerdas dan kadang menerbitkan senyum. Tapi kemudian berangsur-angsur menjadi narasi yang gelisah dan muram, mewakili suasana hati Raumanen. Dan mencapai puncak kesedihan diakhir cerita.

Ada kesamaan latarbelakang tokoh utama pria "Monang - Hamonangan Pohan" pada novel ini dengan tokoh "Joki Tobing" di novel "Terminal Cinta Terakhir"nya Ashadi Siregar. Sama-sama berlatarbelakang Tapanuli.
Bedanya, Joki Tobing dengan gagah berani menolak kehendak ibunya untuk menikah dengan anak Tulangnya. Tapi akhirnya berhasil melunakkan hati Inang dan Tulangnya untuk bersatu dengan Widuri yang perempuan Jawa. Sementara tokoh "Monang", dengan kecut, tak sepenuh hati berani memperjuangkan keinginannya memperistri Raumanen, si gadis Minahasa. Meskipun dengan argumen bahwa Raumanen telah mengandung anaknya.

Ya, pada akhirnya sebagai pembaca memang kita harus memaklumi bahwa seorang pengarang adalah 'tuhan' bagi cerita yang diciptakannya.



Pondok Gede - 02042013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar