Rabu, 02 Mei 2012

Sesuatu Tentang Suku


"Bu, aku kampungnya dimana sih?"  Pertanyaan itu pernah suatu kali diucapkan oleh anakku. Aku agak lama diam sebelum mampu menjawab pertanyaannya.
"Kalau Ayah kan kampungnya di Bukittinggi. Kalau Ibu di Yogya. Terus aku dimana dong?" Lanjut anakku lagi.

Terus terang kami agak bingung juga dihadapkan dengan pertanyaan semacam ini. Dengan posisi suami yang berasal dari suku penganut garis matrilineal dan aku sendiri dari garis patrilineal, tentulah agak sulit menjawab pertanyaan anakku itu. Belum lagi jika menghadapi daftar isian atau formulir yang mempertanyakan "suku". Kecuali untuk keperluan sensus penduduk atau penelitian sosial-budaya, kadang aku berpikir, apa perlunya mempertanyakan asal suku untuk kehidupan dijaman digital ini. Suatu jaman dimana hampir semua sisi kehidupan sudah tergerus oleh virus baru bernama "globalisasi" yang berpotensi mengaburkan sekat antar bangsa.

Katakanlah, jika anakku dihadapkan pada pertanyaan seperti ini. Dia akan menjawab apa? Suku Minang? Rasanya kurang pas, karena dalam budaya Minang bukankah garis keturunan (dalam konteks sosial budaya) berasal dari garis ibu? Demikian pula untuk mengaku bersuku Jawa, terasa tidak tepat karena budaya Jawa menganut garis patrilineal.

Lantas bagaimana nanti anak-anakku akan menjawab pertanyaan  "Suku kamu apa sih?"  Bagaimana kalau anakku menjawab : "Saya orang Indonesia."  Kuperkirakan si penanya akan tersenyum. Namun kuprediksi mereka lalu mengajukan pertanyaan lanjutan lainnya : "Kampung kamu dimana?" atau  "Kamu aslinya dari mana?" 

Lantas harus bagaimana sebaiknya? Apakah anak-anak dari hasil pernikahan antar suku harus mengadopsi salah satu suku yang dibawa oleh orangtuanya? Atau sebaliknya meleburkan dua suku asal menjadi "Indonesia", dengan kemungkinan sirnanya budaya suku-suku yang dulu menjadi modal dari "bhinneka tunggal ika". 

Tapi sejujurnya secara personal dalam kehidupanku, penyatuan dua budaya dalam satu ikatan yang disebut perkawinan telah mempengaruhi cara pandangku terhadap masalah yang berkaitan dengan kesukuan. Setidaknya aku menjadi lebih mengerti, memahami, memaklumi dan toleran terhadap "keunikan" masing-masing suku. Pengertian itu memudahkan aku untuk berusaha tidak terjebak pada isu-isu stereotip mengenai suku tertentu. Dan yang paling utama adalah menyadari, bahwa memang manusia di jagad raya ini oleh Allah SWT dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar saling kenal-mengenal (QS. Al Hujurat, ayat 13). Tak eloklah rasanya jika saling mempertentangkan dan memandang suatu masalah dari sudut kesukuan.

Dan juga, kasihan benar para pendahulu negeri ini yang telah bersusah payah menyatukan berbagai etnis di Nusantara lewat "Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928", jika perbedaan suku masih menjadi isu yang memancing perdebatan dan pertentangan.


Pondok Gede - 02052012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar