Jumat, 29 November 2013

MAJAL




Suatu masa, kita pernah punya pensil aneka warna.

Kugoreskan kuning, jingga, hijau tua, hingga nila... 
Kau torehkan merah, biru, juga abu-abu. 
Semua warna mengisi hari-hari yang kusangka tak punya tepi. 
Karena, manakala majal salah satu warnanya, aku rela merautnya. 
Bila majal kembali, akan kuraut lagi dan lagi...  
Aku setia menabur aneka rupa warna.

Tapi aku letih, kala warna-warna itu tergolek pudar tak nyata. 
Betapa inginnya aku, engkau meraihnya sejenak lalu merautnya, 
lalu kau sapukan sedikit saja kuning atau jingga biar hatiku merona. 
Penantian yang tak ada artinya, kalaulah tak dikatakan sia-sia.

Kubiarkan warna-warni itu jadi tak berarti. 
Pudar tak terbarui lagi. 
Lalu aku hanya bisa berkata ; 
"Bukankah aku mewarnai harimu dulu? 
Seperti juga kau yang mewarnai hariku. 
Kemana perginya biru, abu-abu, jingga dan nila itu.
 Aku tak perlu jawabmu. 
Hanya kuberharap, jujurlah pada hatimu..."


Pondok Gede - 28112013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar