Jumat, 03 Oktober 2014

Korean Wave, Indian Rush...



Bahwa negara kita, NKRI ini adalah sebuah kekuatan besar jika dilihat dari jumlah penduduknya, adalah benar. Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno dahulu ; new emerging forces. Tapi benarkah?
Dari yang kerap kubaca di berbagai ulasan, sepertinya jumlah penduduk yang besar ini sampai sekarang belum menunjukkan keunggulan dan daya gunanya di bidang produksi. Kelas menengah yang terus bertumbuh dan diharapkan menjadi pemicu pergerakan ekonomi produktif malah melenceng bergerak masif menuju ekonomi berbasis konsumsi. Segala macam konsumsi, termasuk konsumsi hiburan audio visual yang berdasar pada industri kreatif.

Tidak mengherankan jika para pelaku ekonomi luar negeri tak segan melayangkan aneka macam pujian bagi NKRI. Lha, iya...mereka begitu bermurah hati memuji, karena melalui kata-kata yang manis mereka kemudian akan memaksa kita dengan halus, agar bersedia membuka pintu lebar-lebar menerima segala bentuk produk mereka. Yup! Dua ratus lima puluh juta penduduk NKRI adalah pasar konsumsi yang sangat seksi bagi mereka...

Salah satu kasus sederhana adalah dibidang hiburan. Setelah beberapa tahun yang lalu hallyu (=Korean Wave) sukses menerjang mata- kuping-perasaan penduduk NKRI yang haus hiburan dengan serial drama yang mendayu-dayu dan K-Pop dengan cewek imut dan cowok 'cantik'nya... Namun belum sempat kita tersadar,  belakangan malah datang lagi serbuan dari negeri India di Asia Barat ; Indian Rush, dengan kisah-kisah epic klasik berikut wajah-wajah pemeran yang cantik rupawan dan ganteng berotot yang berseliweran di layar kaca.

Korea Selatan adalah contoh terbaik, dimana industri kreatif (sinema dan musik) menjadi pendorong invasi budaya mereka ke negara lain, yang pada akhirnya memberi dampak positif bagi aktivitas ekonomi. Berbondong-bondong para penikmat Korean Wave mendatangi Seoul, pulau Nami, Jeju sebagai wisatawan yang ingin "mencari jejak" para bintang idolanya. Belum lagi keuntungan intangitable dengan menguatnya nama negeri mereka dan memudahkan brand produknya mempengaruhi keputusan konsumsi negeri yang di-invasi melalui jalur hiburan. Samsung dan LG adalah dua merek yang mungkin menikmati efek hallyu ini.

Bukan tidak mungkin, beberapa waktu lagi, Indian Rush akan berlanjut dengan invasi produk bermerek TVS, Tata atau Bajaj yang menyasar para penggemar cerita epic klasik India. Dan mungkin diikuti pula dengan pemakaian kain saree dan bindi bagi para perempuan. Atau tak lama lagi jumlah wisatawan ke India akan mengalami kenaikan dengan kedatangan fans dari Indonesia? Jika itu terjadi, tidaklah mengherankan karena serial epic klasik asal India telah berhasil menuai rating tertinggi di jagad pertelevisian negeri kita.

Kemudian yang menjadi pertanyaan, apakah NKRI sebagai bangsa yang besar dan aneka ragam budaya cukup berpuas diri menjadi ajang pemasaran mereka? Adalah sebuah harapan yang tumbuh ketika seorang calon pemimpin mulai menyinggung dan berniat memberi tempat pada keberadaan industri kreatif yang selama ini tidak pernah disentuh oleh pemerintah.

Selama ini mereka ada, tetapi mereka berjuang sendiri secara indie... Padahal, berapa banyak anak muda di Jakarta, Bandung, Yogya, Bali dan lainnya yang kreatif dan karyanya sudah mendunia?  Banyak. Tahukah anda bahwa salah satu ilustrator komik superhero terbitan Amerika adalah seorang seniman Indonesia yang tinggal di Jawa Timur? Bukankah kita tahu juga bahwa selama ini lagu-lagu karya musisi Indonesia selalu menguasai tangga lagu di negeri jiran? Tahukah anda bahwa beberapa disainer pakaian muslim asal Indonesia sudah mulai diperhitungkan di Timur Tengah? Juga seorang perempuan di Yogya yang mendisain tas berbahan alam, dan ternyata karyanya berhasil menembus Amerika? Lalu, apakah anda tahu bahwa Lola Amaria menenteng sendiri karya-karya filmnya untuk dijual dan tayang di luar negeri? Atau, Andrea Hirata bergerak sendiri menerbitkan tetralogi Laskar Pelangi-nya di mancanegara?

Tapi, ya begitulah... Mereka, para pekerja kreatif itu bergerak sendiri-sendiri seperti pejuang underground. Seandainya, seandainya pemerintah benar-benar sadar betapa industri kreatif punya potensi untuk menggerakkan ekonomi dan kebanggaan bangsa. Dan mereka adalah bibit-bibit yang potensial untuk dikembangtumbuhkan... Mungkin kita bisa bermimpi dan berharap mimpi itu bisa terjadi, menjadi "Indonesian Wave" atau "Nusantara Storm" atau apalah... Tapiii, kapan yaaa?


Pondok Gede - 02102014  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar