Sabtu, 08 Juni 2013

Pejabat Bukan Selalu Pemimpin



Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beranjak menua. Menjelang 68 tahun usianya sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan usia yang setara dengan manula, adakah kita sebagai bangsa juga makin dewasa dan bijaksana? Semestinya demikian, karena itu adalah suatu kelaziman ; Makin bertambah usia, makin kaya pengalaman hidup, makin banyak pelajaran kehidupan yang didapat, maka makin bertambah pula kekayaan batinnya. Tapi pada bangsa kita, apakah demikian adanya?

 Maka bacalah berita di koran, di media cetak, di dunia maya. Tontonlah berita di televisi, dengarlah cerita dan keluhan bangsa (dan warganegara) tentang para pejabat dan pemimpin di sekitarnya. Tak usahlah pejabat atau pemimpin bangsa. Cukuplah pejabat di lingkungan tempat tinggal, di organisasi, di tempat kerja. Berapa banyak dari manusia yang mendapat amanah berupa jabatan, tapi jauh panggang dari api untuk bertindak dan bersikap sebagai pemimpin? Bukankah seorang yang kepadanya disematkan status pejabat pada suatu wadah, seyogyanya adalah juga orang yang menjadi pemimpin bagi kaum yang berada dalam wadah itu? Tak akan mungkin seseorang diberi suatu jabatan jika tak ada suatu kaum yang harus dipikirkan dan dipimpin bukan?

"Sesungguhnya seorang pemimpin merupakan perisai. Rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya"  (HR Muslim)

Betapa indahnya perumpamaan  tentang sosok pemimpin menurut hadist diatas. Betapa nyamannya para bawahan memiliki atasan seperti sosok dalam hadist itu. Seorang pejabat yang melindungi, memberi petunjuk, mengarahkan, memotivasi, kadang sanggup menjadi martir bagi kaumnya... Pokoknya 'someone to rely on, someone who can be a bridge over troubled water'.  Itulah seorang pejabat yang juga pemimpin. Adakah, masih adakah dimasa kini, di tengah 230 juta rakyat RI yang memiliki jiwa seperti itu... Jika ada, berapa persen, berapa orang kah?

Di tengah berita yang datang silih berganti tentang sosok berbagai pejabat di negeri ini, kadang pikiran menjadi pesimis dengan keberadaan 'pejabat yang pemimpin' itu. Karena bukankah sudah banyak bertaburan 'pejabat yang hanya pejabat'.  Mereka yang dibebani amanah tapi tak pandai memperlakukan kepercayaan itu. Sehingga yang muncul dari diri mereka adalah perilaku layaknya fir'aun model milenium ; menekan, mengancam, memikirkan diri sendiri, khawatir akan kehilangan citra diri, takut kehilangan jabatan, tidak mau mengambil resiko, takut mengambil keputusan, tidak tegas, ragu-ragu, acapkali menyalahkan kaum yang seharusnya diarahkan/dilindungi tanpa memberi solusi...

Coba, mari kita cari orang yang memiliki typical 'pejabat bukan pemimpin' seperti itu di sekeliling kita. Banyak. Maka tak heran jika banyak pengamat dan ahli yang prihatin, bahwa bangsa ini mengalami krisis kepemimpinan. Aku jadi ingat salah seorang mantan kepala daerah yang mengatakan bahwa "menjadi pejabat dan pemimpin berarti menghibahkan diri pada warga, kaum dan atau masyarakat yang berada dalam naungannya".  Bukan malah berlaku seperti raja dan fir'aun yang harus selalu dilayani, di-emong dan menerima persembahan dari rakyatnya. Semoga masih ada pejabat-pejabat lain (dan calon pejabat) yang tiba-tiba mendapat hidayah untuk berprinsip dan berperilaku demikian.


Pondok Gede - 08062013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar