Rabu, 12 Desember 2012

Bedah Caesar


"Sudah melahirkan?"
"Bayinya laki atau perempuan?"
"Beratnya berapa?"
"Persalinan normal atau operasi?"

Biasanya hal-hal itulah yang ditanyakan orang ketika mendengar kerabat dan handai taulannya bersalin, bukan? Sering kutemui, jika pertanyaan terakhir dijawab dengan kata "operasi (caesar)", si penanya akan menanggapi dengan kata "Oooo...." yang terkesan agak gimanaaa...gitu.
Jangan-jangan itu hanya perasaanku sebagai seorang ibu yang belum pernah melahirkan secara normal? Sehingga sedikit merasa tidak sempurna?

Seringkali aku mendapati komentar dari orang, bahwa melahirkan secara caesar itu enak. Bisa memilih hari dan tanggal, tidak merasakan sakitnya mengejan..... Padahal, siapa bilang? Kalau dipikir-pikir, ditimbang-timbang dan dirasa-rasa, melahirkan dengan cara yang diberikan Yang Maha Kuasa pastilah lebih nyaman daripada cara yang "diluar kebiasaan" seperti bedah caesar.

Mari simak pengalamanku sebagai seorang ibu yang tiga kali melahirkan, seluruhnya dengan cara yang "diluar kebiasaan". Aku yang sebelumnya tak pernah membayangkan bakal melahirkan dengan cara seperti ini. Yang tak pernah mengalami  "pembukaan" lebih dari ukuran dua jari. Yang menurut perkiraan pihak berwenang  tidak akan bisa melahirkan secara normal jika lingkar kepala bayi lebih dari 30 sentimeter (dan ternyata memang tiga anakku lahir dengan lingkar kepala 35-36 sentimeter) ;

- Sebelum operasi dilakukan, semalam sebelumnya  diharuskan berpuasa. Bandingkan dengan cara normal yang boleh makan apa saja, bahkan beberapa menit sebelum mengejan.

- Di dalam kamar operasi yang dingin bukan main. Dalam keadaan "benar-benar terbuka" menahan dingin dan merasakan proses pemasangan kateter. Belum lagi harus memposisikan diri seperti udang atau huruf ‘c’ untuk menerima suntikan anestesi di tulang belakang (yang kadang harus dilakukan berkali-kali karena pihak berwenang belum menemukan titik yang pas).

- Dalam keadaan setengah sadar masih bisa merasakan perut ditoreh pisau, meskipun tidak berasa sakit apapun. Lalu merasakan ada sesuatu yang ditekan, ditarik dan diangkat dari perut. Kemudian terdengar tangis bayi yang hanya bisa kulihat sesaat, sebelum bius benar-benar mematikan kesadaran.

- Begitu tersadar dan tak tahu waktu, banyak peralatan medis yang tertempel di tubuh. Selang kateter, selang infus, selang oksigen.... Dalam keadaan sangat haus, tapi hanya diijinkan minum satu atau dua sedot air. Karena untuk mengaktifkan kembali pencernaan harus menunggu angin keluar dari perut. (Dan kadang-kadang pun harus menunggu seharian sampai "si angin" benar-benar enyah dari tubuh).
Bandingkan dengan cara normal, yang setelah proses bersalin boleh makan apa saja dan sebanyak apapun.

- Ketika efek anestesi mulai habis. Mulailah terasa ngilu bekas sayatan. Yang membuat gamang untuk bangun, berjalan, bahkan tertawa dan terbatuk atau bersin... Karena setiap gerakan yang berhubungan dengan otot perut akan memunculkan rasa ngilu dan nyeri. Belum lagi masalah dengan keloid pada bekas operasi.

- Membutuhkan daya juang menahan sakit yang besar, ketika pada hari kedua oleh paramedis disarankan untuk bangkit dan berjalan sendiri tanpa bantuan, dengan alasan agar bekas operasi menjadi elastis dan tidak kaku. Padahal ngilu bekas sayatan masih sangat terasa, meskipun sudah dibantu dengan obat penghilang rasa sakit.     

- Dengan operasi caesar, perawatan pasca bersalin tidak bisa optimal. Karena tidak disarankan memakai gurita atau setagen, yang dipercaya bisa memulihkan "penampakan" perut. Dengan alasan, menghindari jahitan operasi robek atau terbuka kembali. Maka hilanglah harapan untuk kembali memiliki "penampakan" bagian perut seperti sebelum melahirkan.

Setelah membaca ini, masihkah ada calon ibu yang berpandangan lebih enak melahirkan secara bedah caesar, dan sengaja memilih melahirkan dengan cara  "diluar kebiasaan" seperti ini? 


Pondok Gede - 12122012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar