Selasa, 23 April 2013

Seorang Perempuan Bernama Raden Ajeng Kartini



Sekian puluh tahun setelah pemberian gelar pahlawan kepada seorang perempuan bernama Raden Ajeng Kartini. Entah mengapa akhir-akhir  ini banyak yang mempermasalahkan gelar kepahlawanannya. Beberapa orang mengatakan ; bagaimana mungkin karena tulisan curhatnya, seorang perempuan  tiba-tiba bisa menjadi pahlawan? Padahal saya yakin, pada waktu menulis surat-surat kepada teman Belanda-nya, RA Kartini tidak pernah bermaksud agar nantinya dia bisa diberi gelar pahlawan...
Bahkan beberapa  status, tweet, maupun tulisan di dunia maya membandingkannya dengan kiprah Rohana Kudus, Cut Nya Dien, Dewi Sartika, atau seorang perempuan penulis dari Sulawesi era tahun 1800-an (maaf, saya lupa namanya).

Menurut hemat saya,  membaca surat-surat Kartini idealnya adalah dengan mendalami dan memahami kondisi psikologi dan lingkungan sosial beliau dalam tatanan masyarakat ningrat Jawa pada masa itu. Jika kita bisa 'masuk' kedalam ranah itu, barulah kita mengerti bahwa buah kata Kartini dalam surat-suratnya kepada Nyonya Abendanon adalah suatu pemikiran yang sangat maju (kalau tidak bisa dikatakan sebagai pemberontakan) untuk perempuan pada masa dan dalam lingkungan itu. Mohon maaf,  dan bukan karena ikatan primodial, jika saya yang kebetulan seorang Jawa bisa memahami kegelisahan dan kekecewaan Kartini pada tatanan sosial perempuan Jawa dimasa itu. Termasuk dengan keputusannya untuk menolak beasiswa ke Eropa dan memilih menjadi istri kesekian dari seorang Bupati setengah baya. Bukankah dipandang dari sisi lain, keputusannya itu adalah wujud dari sikapnya sebagai seorang muslimah? Sekali lagi, mohon maaf jika penalaran saya keliru.

Saya pikir, mungkin buah pemikiran yang maju untuk jamannya itu yang menjadi dasar pemberian gelar pahlawan baginya. Bukan disebabkan oleh pemerintah RI, yang kebetulan, berada di tanah Jawa dengan segala dampak, efek dan implikasinya.

Tanpa bermaksud mengecilkan yang lain. Menurut hemat saya, Kartini tidak bisa dibandingkan secara 'apple to apple' - misalnya - dengan Rohana Kudus. Yang pada masa yang hampir bersamaan (atau bahkan lebih dulu?) dengan Kartini telah menerbitkan surat kabar di Sumatra Barat dan menjadi pemimpin Syarikat Perempuan di daerahnya. Tentu saja, menurut pemikiran saya, hal itu bisa dan sangat mungkin terjadi terkait dengan posisi perempuan Minang yang memang berbudaya matrilineal dan punya peran sentral sebagai "Bundo Kanduang". Jelas kondisi psikologis bunda Rohana Kudus berbeda dengan Kartini sebagai perempuan Jawa yang hidup di abad-19 dalam budaya patriarki yang sangat kental, dimana perempuan seringkali hanya dianggap sebagai "kanca wingking".

Mungkin benar kata seorang teman dunia maya saya dalam tulisan di blog-nya *). Bahwa pergeseran citra Kartini yang ditandai dengan perdebatan mengenai status kepahlawanannya ini sebagian besar disebabkan oleh dangkalnya kaum perempuan dalam memaknai hari kelahiran Kartini berikut gelar pahlawannya.
Lomba berkebaya, lomba memasang konde, lomba lari dengan high heel. Bahkan kontes miss-miss dan putri ini-itu pun membawa-bawa nama Kartini. Seringkali saya merasa gerah dan begah dengan penyebutan nama Kartini untuk event-event seperti itu.... Jadi kapan para perempuan bisa memberi makna yang lebih dalam terhadap kiprah dan gelar pahlawan perempuan ya?


Pondok Gede - 23042013


*) Terima kasih untuk Dinda Nuurannisaa Yura dan blog-nya.

Selasa, 02 April 2013

Tertawalah, Nak


Hari masih sangat dini. Dingin sisa hujan kemarin malam menyengat kulit, saat aku terbangun dari tidur yang hanya sebentar. Seperti hari-hari biasanya, pagi, sebelum adzan subuh berkumandang, aku sudah memulai hariku. Pertama aku akan pergi ke kamar anakku. Mengganti lampu tidur dengan lampu terang, mematikan pendingin ruangan (yang sebenarnya tidak perlu dinyalakan karena belakangan ini udara sudah dingin karena musim hujan). Lalu kulanjutkan dengan menarik selimut, bantal dan guling dari tubuh anakku, sebelum akhirnya membangunkannya untuk persiapan berangkat sekolah. Ritual yang seringkali membuat stres, karena semuanya berkejaran dengan waktu. Semuanya harus berlangsung dengan cepat dan tepat. Karena selisih waktu yang hanya tiga atau lima menit pun akan menentukan apakah kita bisa sampai di tempat tujuan tanpa terlambat, atau apakah kita terperangkap dalam kemacetan lalulintas yang menjengkelkan.

Dia, anakku, matanya masih terpejam rapat meskipun telah kehilangan selimut, bantal dan gulingnya dalam waktu bersamaan. Aku tahu, tanpa garukan ditelapak kakinya dan gelitikan pada tubuhnya dia tidak akan terbangun. Kupandangi tubuh kecil yang masih lelap dalam kubangan alas tidur bergambar tokoh Naruto. Dalam usianya yang melewati tujuh tahun menjelang delapan, dia terlihat  langsing dibanding empat atau lima tahun yang lalu, ketika orang gemas melihat pipi chubby-nya, atau paha dan lengannya yang gempal.

Anakku masih tidur dengan posisi miring, kedua tungkainya rapat tertarik kearah perut, dan kedua tangan menyatu didepan dada. Seperti posisi bayi yang berada dalam rahim ibunya. Ah, aku baru sadar bahwa akupun menyukai posisi tidur seperti itu. Hatiku tersentuh, aku bergerak merengkuh dan memeluk tubuh kecil itu dalam pelukanku. Kuciumi dan kukecup wajahnya sepuasku. Karena hal ini tak mungkin kulakukan padanya ketika ia dalam kondisi tidak tidur. Entah mengapa dalam usianya sekarang, dia sangat sulit untuk sekedar dimintai satu ciuman atau pelukan. Anakku ini, kupikir memang kadang-kadang terlihat lebih dewasa dalam berkata-kata dan bersikap dibanding kakaknya. Mungkinkah karena itu dia enggan diperlakukan layaknya anak kecil yang sering dipeluk dan dicium?
 
Aku masih memeluk dan menciumi dia, anakku. Menghirup bau anak-anak yang masih melekat ditubuhnya, dan menikmati harum shampo dalam botol bergambar Donald Duck yang masih tersisa dirambut halusnya. Saat itu aku terpana, tiba-tiba aku mendengar suara tawa anakku. Meskipun tidak keras, tapi aku mendengarnya sebagai suara yang sangat indah. Suara tawa yang riang dan jernih itu, keluar dari mulut yang terbuka riang menunjukkan gigi geligi ompongnya. Sementara diwaktu yang sama, matanya masih terpejam rapat. Mimpi apa yang sedang kau alami anakku? Apakah engkau sedang bercanda dengan bidadari di surga, sambil menjilati mentega atau kecap yang selama ini kau lakukan diam-diam (padahal Ibu tahu)? Atau minum berbotol-botol minuman soda dingin yang sangat Ibu hindarkan darimu? Atau bermain playstation, PSP atau game online seharian penuh tanpa teguran dan larangan?

Jika benar itu yang ada dalam mimpimu, maafkan Ibumu karena seringkali melarangmu melakukan hal itu. Ketahuilah, nak....Kalau Ibu melarangmu, itu bukan berarti Ibu tak menyayangimu. Ibu hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik, yang mungkin tak akan bisa terjadi karena apa yang kau lakukan itu.
Tertawalah selalu, nak.... Jangan hanya tertawa dalam tidurmu... Karena senyum dan tawamu lebih berarti bagi Ibu, daripada senyum dan tawa manusia dewasa yang kadang tidak tulus karena diiringi berbagai maksud dan tujuan......
   

Pondok Gede - 13012012

Malamnya Yogya




 
kutinggalkan

saat malam mulai beranjak menua

basah tanah karena hujan belum hendak sudah 

lampu jalan redup

memayungi lengang yang membekap

engkau adalah tentram hati

kehanyutan yang tak henti

sekalian pilu yang menderu

kutitipkan dua wajah

mengikat akan selalu lekat 


31032013

Cinta Tragis "Raumanen"



Novel terbitan Gaya Favorit Press tahun 1977 ini kutemukan di rak buku di rumah orangtuaku. Ketika aku 'mudik' memanfaatkan long week end. Sebenarnya, aku bukan mencari novel ini, karena  niatku adalah menemukan sebagian dari trilogi karya Ashadi Siregar ; 'Cintaku Di Kampus Biru' dan 'Kugapai Cintamu' (minus 'Terminal Cinta Terakhir' yang sudah kubaca ulang via e-book). Syukur-syukur kalau kutemukan juga 'Sirkuit Kemelut'. Karena seingatku, dulu Bapakku adalah penggemar karya Ashadi Siregar.

Novel yang sengaja kucari ternyata tak kutemukan. Mungkin aku harus membongkar rak buku lainnya, yang butuh banyak waktu. Tapi novel karya Marianne Katoppo ini sepertinya layak juga dibaca ulang. Dulu, aku pertama kali membaca novel ini saat duduk di kelas satu atau dua SMP. Ditanganku, sampul novel ini masih utuh dan licin.... Karena disimpan dengan baik oleh Ibuku yang membelinya pada tahun 1981 (ini kuketahui dari angka tahun yang tertera disamping tandatangan Ibuku di halaman awal buku). Hanya kertas isinya yang kusam kekuning-kuningan dimakan usia.

Membaca ulang novel ini, membuat aku menarik kesimpulan bahwa pada tahun 70-an, karya dengan setting dunia mahasiswa tampaknya adalah trend pada masa itu. Hampir sebangun dengan  'Cintaku di Kampus Biru' yang juga berlatarbelakang dunia kampus. Bedanya, 'Raumanen' ditulis dengan lebih halus - mungkin karena penulisnya seorang wanita. Sedangkan 'Kampus Biru' lebih bernuansa tegas, lincah dan sangat terbuka.

Dulu diawal masa remajaku, aku membaca 'Raumanen' dengan cara sederhana. Membaca kata per kata, kalimat per kalimat, hanya untuk tahu bagaimana akhir kisah cinta pertama Raumanen Rumokoi, mahasiswi berdarah Minahasa yang pintar dan lugu, dengan  Hamonangan Pohan,  insinyur yang playboy tapi tunduk pada kemauan adat melalui perintah ibunya. Pun dulu aku tak terlalu menyelami karakter masing-masing tokoh utama novel ini.

Tapi sekarang, dengan membaca ulang novel ini, aku memperoleh banyak pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Tentang ke'bhinekaan' Indonesia, tentang orangtua yang keukeuh memberlakukan adat dan menganggap bahwa seorang anak lahir ke dunia untuk memenuhi keinginan ideal orangtua - dalam novel ini diwakili oleh ibunda Monang sang insinyur.

Ada pula pesan tentang seorang lelaki dewasa yang tak mampu memperjuangkan cintanya kepada gadis berbeda suku, yang sebaliknya, keluarganya demikian terbuka menerima perbedaan itu. Ketidakmampuan Monang keluar dari kungkungan adat dan tuntutan ibunya itulah, yang membawa duka lara pada diri Raumanen. Menunjukkan betapa rapuh sebenarnya karakter Monang, dan Raumanen menjadi akibat dari lemahnya Monang.

Akan halnya Raumanen. Ia adalah seorang gadis delapan belas tahun yang belum pernah mengenal cinta sebelumnya. Tapi karena keluguannya (atau karena kepintaran Monang merayu?), ia terjerat pada hubungan yang meragukan, karena Monang tak pernah berucap cinta padanya. Meskipun tindakan Monang telah dengan jelas menunjukkan kesungguhan untuk membawa Raumanen kearah pernikahan. Terlebih setelah Monang tahu bahwa Raumanen mengandung anaknya.

"Aku cuma berusaha menerangkan," kata Monang lesu. "Jangan begitu perasa, pemarah. Pendapat orang tuaku itu bukan pendapatku sendiri. Kau harus tahu itu. Tetapi kau juga harus mengerti betapa sulitnya bagiku berbicara dengan mereka, melihat bahwa setiap perkataanku seakan-akan batu tajam yang merajam hati mereka..."

"Kalau orang tuamu begitu ingin mempertahankan kemurnian adat," kata Manen sinis, "mengapa mereka tak menyimpanmu dalam lemari kaca sejak kecil? Mengapa engkau tak ditahan saja di Tarutung sana, tetapi dikirim ke Jakarta, ke Bandung, untuk bersekolah? Sebaiknya mereka tetap mengurungmu di bawah tempurung kesukuan..."

Bagi Raumanen yang dibesarkan dalam keluarga yang religius, cinta adalah datang dari Tuhan. Dan melihat Monang yang tak menghiraukan keberadaan Tuhan, maka Raumanen percaya bahwa Monang tak punya cinta untuknya. Ia merasa, niat Monang untuk menjadikannya istri adalah sekedar keterpaksaan karena benih yang telanjur tertanam di rahimnya. Ditambah lagi dengan kenyataan, bahwa rumah baru yang sedianya adalah rumah masa depan mereka berdua, ternyata kemudian ditempati oleh ibu dan adik-adik Monang. Dan pada suatu malam ia mendatangi rumah Monang yang tengah berpesta, tapi lelaki itu tak mengundangnya masuk, apalagi memperkenalkan dirinya yang sudah mengandung anak Monang.

Hal-hal itu membuat Raumanen putus asa. Ia menyimpan sendiri masalahnya, karena sadar itu adalah kesalahan yang ia buat sendiri. Kesalahan yang nyata, karena sebelum terlibat terlalu jauh dengan Monang ia sudah tahu reputasi Monang yang playboy, dan untuk itu beberapa kerabat dan teman sudah berusaha memagarinya. Tapi toh ia nekad menerobos pagar itu demi Monang.

Puncak keputusasaan Raumanen adalah ketika dokter memastikan bahwa janin yang dikandungnya tak akan lahir dengan sehat karena penyakit yang dibawa Monang akibat pergaulan bebas. Gadis muda yang tadinya optimis, realistis dan penuh cita-cita itu tak mampu berpikir sehat. Ia merasa benar-benar bersalah, terhina, dan kebanggaannya hancur tak bersisa. Ia menolak saran dokter untuk melakukan abortus provocatus, dan memilih sendiri cara kematian bersama janinnya. Sebilah pisau dan guratan di pergelangan tangan mengakhiri keputusasaan Raumanen. Tragis.

Raumanen ;  Aku tersenyum dalam kegelapan itu. Biarlah didobraknya pintu itu. Biarlah mereka menyerbu masuk. Menyeret tubuhku keluar nanti. Apa yang terjadi, sudah terjadi. Hukuman sudah dilaksanakan.
Kujatuhkan barang mati, yang tadinya kugenggam kuat-kuat, ke lantai. Kurebahkan diriku ke ranjang, seraya mengangkat tangan sekedar penutup wajahku, yang tiba-tiba disoroti cahaya putih gemilang.
Tetapi, tanganku itu berlumuran darah! Aku menjerit - tetapi darah itu masuk ke dalam mataku, mulutku, hidungku... Seluruh duniaku menjadi darah, menjadi merah! Dan aku ditelan kemerahan itu...

Monang ;  Jangan kau harapkan cucu dariku! Inilah upah kekerasan hatimu! Ganjaran yang kau terima bagi kecongkakanmu... Dulu kau tak sudi mengaku anakku sebagai cucumu, bila darahnya bukan darah Batak murni. Berbahagialah kau sekarang dengan kemurnianmu : sombu ma roham, inang. Satu-satunya anakku, satu-satunya cucu yang pernah dapat kuberikan kepadamu, sudah lama mati! Mati! Dibunuh Raumanen dalam keputusasaannya sepuluh tahun yang lalu!

Sebagai novel yang meraih penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta tahun 1975, novel ini memang menghanyutkan. Pada awal cerita, begitu lincah dan segar menggambarkan keceriaan Raumanen dan dunia mahasiswanya dengan dialog-dialog yang cerdas dan kadang menerbitkan senyum. Tapi kemudian berangsur-angsur menjadi narasi yang gelisah dan muram, mewakili suasana hati Raumanen. Dan mencapai puncak kesedihan diakhir cerita.

Ada kesamaan latarbelakang tokoh utama pria "Monang - Hamonangan Pohan" pada novel ini dengan tokoh "Joki Tobing" di novel "Terminal Cinta Terakhir"nya Ashadi Siregar. Sama-sama berlatarbelakang Tapanuli.
Bedanya, Joki Tobing dengan gagah berani menolak kehendak ibunya untuk menikah dengan anak Tulangnya. Tapi akhirnya berhasil melunakkan hati Inang dan Tulangnya untuk bersatu dengan Widuri yang perempuan Jawa. Sementara tokoh "Monang", dengan kecut, tak sepenuh hati berani memperjuangkan keinginannya memperistri Raumanen, si gadis Minahasa. Meskipun dengan argumen bahwa Raumanen telah mengandung anaknya.

Ya, pada akhirnya sebagai pembaca memang kita harus memaklumi bahwa seorang pengarang adalah 'tuhan' bagi cerita yang diciptakannya.



Pondok Gede - 02042013

Selasa, 05 Maret 2013

When I was : Patah Hati *)



Patah hatiku yang paling "happening" itu terjadi sewaktu aku duduk dibangku kuliah. Tapi sebenarnya aku juga meragukan status 'kepatahhatian'ku waktu itu. Apa iya aku patah hati? Karena waktu itu, sungguh mati aku belum jadian dengan cowok itu. Tepatnya, waktu itu kami sedang saling mendekatkan diri. Namun tiba-tiba dengan tanpa sopan santun, seorang cewek lain datang dengan laku yang super agresif dan provokatif, memberikan serangan frontal kepada cowok gebetanku. Dibanding dengan aku yang waktu itu penuh ragu dan malu-malu, tentu saja dia menang telak dan berhasil mencuri targetku. Ironisnya lagi, si cewek itu adalah teman dekatku tempat aku curhat, termasuk curhat tentang perasaanku kepada 'the target man'.

Terbayang bukan, bagaimana sakitnya hatiku? Aku merasa ditelikung, ditusuk dari belakang, digunting dalam lipatan...... Segala macam unsur yang menggambarkan keteraniayaan kupakaikan pada diriku waktu itu. Pokoknya sakiiiiitttt......sekali. Dan hari-hariku waktu itu dipenuhi dengan pikiran 'betapa malangnya nasib cintaku'. Pikiran yang membuat diriku menjadi tak produktif.


 

Akhirnya untuk membuang pikiran itu aku menyibukkan diri membuang tenaga. Dalam logikaku, jika aku kehabisan tenaga maka aku akan kelelahan dan butuh tidur. Dan dengan tidur aku akan bisa melupakan pikiran 'betapa malangnya nasib cintaku' itu.

Maka pada suatu hari setelah selesai kuliah, aku berjalan kaki sendiri. Tak ada tujuan yang pasti waktu itu. Aku hanya berjalan dan terus berjalan, tak peduli betapa panasnya hari. Sepanjang jalan, tentu saja aku berkeluh kesah dalam hati, memaki, menyesali, meratapi, bahkan juga menangis. Hingga menjelang senja aku baru melangkah menuju pulang. Sampai dirumah, dengan kaki pegal dan badan letih, aku bisa tidur pulas tanpa mengingat kesedihanku dan betapa malangnya aku....hiks...

Perjalanan panjang tanpa tujuan itu kulakukan selama empat hari berturut-turut. Dan pada hari kelima aku sudah lupa akan kisah "target yang tercuri". Aku sudah bisa tersenyum lagi, menertawakan kecengenganku, dan bersemangat lagi menyentuh diktat-diktat kuliah.  Bahkan hari selanjutnya aku sudah bisa menimbang-nimbang, cowok mana lagi yang akan kujadikan target pengganti.....


 *) Sepotong kenangan "unyu" masa dulu 


Pondok Gede - 05032013