Jumat, 01 April 2016

Penerus Jabatan




Membaca berita politik di medsos akhir-akhir ini, mendadak saya merasa ada setitik harapan dalam hidup saya. Harapan untuk satu perubahan dalam keseharian saya yang berkutat dengan aneka kegiatan domestik. Ya, sudah hampir sepuluh tahun saya menjalani hidup seperti ini, sebagai ratu rumah.

Tapi seandainya fenomena dunia politik akhir-akhir ini bisa juga berlaku pada diri saya, pasti bakal menyenangkan sekali.
Bayangkan. Saya akan kembali menjadi wanita bekerja eight to five. Berangkat dari rumah dengan pakaian kerja modis, sepatu  hak sedang (karena saya tidak bisa pakai stiletto), tas tangan yang cantik, ditambah aksesoris khas perempuan pekerja metropolitan.
Apa lagi? Oh yaa… tiap pagi saya akan memasuki kantor disalah satu gedung jangkung di pusat Jakarta. Turun dari mobil, saya akan langsung disambut oleh hawa segar wangi dari pendingin udara… yang pasti beda aromanya dengan aroma asap di dapur saya. Seharian, pastinya, saya akan bertemu dan bergaul dengan orang-orang yang rapi dan wangi, berbicara penuh ilmu dan inteligensi. Beda dengan pak sayur, pak sampah, atau mbak laundry yang saya temui setiap hari sekarang.

Aihh… harapan (atau khayalan) saya pun membuncah. Dan karenanya saya tidak tahan lagi untuk membaginya dengan orang tercintah saya pada suatu malam, saat dia tengah serius menatap layar gadget.

*Foto hasil dari Google search

“Hun…” (Menyentuh lengannya)
“Hmmm…” (Menoleh sedikit)
“Engg… mungkin nggak ya, nanti. Nantiii… setelah jij pensiun, kerjaan dan jabatan jij itu eike yang lanjutin?”
“Maksud jij?” (Menoleh lagi. Sedikit)
“Iyaa. Jij kan nanti pensiun. Terus eike yang gantiin... “
“Ah. Mana bisa begitu.”
“Bisa dong. Kan sebelum eike married dengan jij, eike pernah kerja juga di kantor jij. Eike kan terpaksa keluar kerja gegara married sama jij..!”
“Hmmm…?” (Mulai serius)
“Bisa kan?!”
“Mana ada jabatan bisa dilungsurkan gitu?”
“Ahh… tapi kok kalau gubernur bisa? Dia bakal mencalonkan istrinya jadi penggantinya?”
“Haahh?”
“Iyaa…. Belakangan malah pak mantan presiden naga-naganya bakal mengajukan istrinya jadi capres. Jij bisa toh, seperti itu?”
“Hmmm…” (Geleng-geleng kepala)
“Bisa kan? Tanda cinta jij ke eike… seperti pak gubernur dan pak mantan itu…”
“Ishh… jangan norak! Itu kemaruk namanya!”

Mendengar kalimat terakhirnya, saya pun terdiam. Percakapan berakhir, karena saya enggan disebut norak dan kemaruk.

Harapan dan khayalan saya pun punah.


Pondok Gede - 16032016

Kekuatan Yang Tersembunyi



*Foto hasil dari Google search


 “You never know how strong you are. Until being strong is only your choice”


Kalimat itu pernah saya baca disebuah foto yang lewat di beranda medsos saya. Saya suka kalimat itu. Karenanya saya ingat benar esensi yang dimaksud oleh penulis kalimat, yang sayangnya tidak disebutkan namanya dalam foto itu.



Selama ini, saya merasa bahwa saya bukan seorang yang “strong” atau “tough”, yang dalam pengertian saya berarti “tahan banting”.

Tapi semua menjadi berbeda. Ketika keadaan memaksa, ketika tak ada orang lain yang bisa dan pantas dimintai tolong, ternyata saya bisa menjelma menjadi seorang yang kuat. Setidaknya “kuat” dalam ukuran saya sendiri.



Tak terbayangkan. Saat tengah malam terbangun, saya harus melihat orang tercinta menekap hidung yang mengucurkan darah. Hal yang tak pernah saya alami sebelum ini, bahkan sebisa mungkin akan saya hindari untuk melihatnya dengan mata kepala sendiri.



Tapi itulah yang harus saya hadapi saat itu.Menemaninya berdiri sekian menit di depan bak cuci… yang otomatis juga harus melihat darah yang menetes-netes jatuh menimpa bak cuci, sambil berkali-kali mengangsurkan kapas dan menarik berlembar-lembar tisu dari kotaknya.

Khawatir? Takut? Pasti. Ditambah lagi dengan bermacam pertanyaan yang simpang siur di kepala. Berbagai dugaan dan seribu kata “mungkin” yang berseliweran dipikiran. Juga seribu penepisan, lalu harapan bahwa semua akan berakhir. Semua akan baik-baik saja seperti semula. Seiring suara batin, “Ya Allah, mohon tolonglah suami saya. Ya Allah, hanya Engkau yang bisa menolong…”

Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan saat itu. Saya lupa bahwa sebelum itu saya adalah seorang yang mudah galau dan kadang meragu.



Entah dari mana saya mendapatkan ketenangan seperti itu. Padahal di rumah saya dijuluki “Mrs Panic” karena seringnya saya nervous menghadapi hal-hal yang terjadi di luar rencana dan kebiasaan. Tengah malam itu, hanya saya yang harus menolongnya. Tak mungkin berteriak dengan panik dan histeris, lalu membangunkan anak-anak untuk membersihkan tetesan-tetesan merah di lantai atau menjumput gumpalan darah yang tidak bisa melewati saringan pembuangan di bak cuci. Juga mengemasi kapas dan tisu bernoda darah yang hampir sekantong plastik penuh, kemudian mengucek kausnya yang terciprat noda merah darah. Sungguh tak terbayangkan saya bisa melakukan itu tanpa rasa jijik atau miris. Padahal dilain waktu, untuk melihat video operasi caesar yang berdarah-darah di medsos pun saya tidak sanggup.



Kekuatan yang tidak saya sangka bahwa saya punya, terasa lagi keesokan harinya. Itu ketika berada di ruang praktek dokter, saat darah kembali mengucur dari hidung orang yang saya cintai.

Haruskah saya ikut menangis melihat seseorang yang menjadi tumpuan selama ini menitikkan airmata menahan sakit manakala dua buah tampon disurukkan ke lubang hidungnya demi menghentikan pendarahan? Tidak mungkin. Jalan satu-satunya, saya harus lebih kuat daripada dia saat itu… Sampai setelahnya, terpikir oleh saya bahwa saat itu saya bagaikan makhluk tanpa perasaan. Saya ketika itu, bukan saya yang biasanya…



Itukah yang disebut inner strength? Seperti yang berkali-kali dia katakan saat memotivasi tiga jagoan kami? Bahwa seringkali kemampuan sejati manusia itu seperti fenomena gunung es di tengah laut. Hanya sedikit yang terlihat di permukaan air, padahal ada bongkahan yang jauh lebih besar yang tersembunyi dan tak terlihat di bawah permukaan laut… Dan dalam keadaan terpojok dan terpaksa, sebagian orang  mampu mengeluarkan kemampuan sejatinya. Lalu setelah semua terjadi dan berlalu, orang pun baru menyadari bahwa “ternyata saya bisa”... “ternyata saya lebih kuat dari yang saya kira selama ini”. Inner strength.


Pondok Gede -  25022016

Sabtu, 12 Desember 2015

Ranah Seribu Bukit




Nagari sunyi. Desa ini amatlah indah. Sekelilingnya adalah gunung dan ngarai. Sejuk, meski kata ibu mertuaku sudah tak sedingin dulu. Pagi, aku masih melihat kabut mengambang diatas persawahan. Disisi lain, gunung Singgalang memancarkan warna keemasan pada tubuhnya karena curahan sinar mentari pagi. Sementara gunung Marapi lebih sering bersembunyi dibalik awan. Allahuakbar, lengkap sudah pemandangan dan suasana langka yang tak mungkin kami temui di Jabodetabek....

Di nagari ini, rasanya jarum jam berputar lebih lambat.... Hening. Sehening dan sediam rumah-rumah kayu yang sebagian besar ditinggalkan oleh pewarisnya merantau. Entah ke Padang, Medan, Jakarta.... bahkan kelain benua. Dan tinggallah rumah-rumah itu dalam sepi... Jendela kaca berbingkai kayu, berhias tirai putih itu mungkin hanya sesekali terbuka. Mungkin disaat liburan panjang atau kala dilaksanakan perhelatan adat... Setelah itu, jarum jam kembali bergulir pelan, tak secepat jarum jam dirantau.

Maka tinggallah desa ini bersama para penghuni. Datang dari sebelah, yang kadang pula tak berakar. Sementara pemilik akar telah menyebar kesegala arah... Tidakkah itu disayangkan? Nagari yang sepermai ini ditinggalkan dalam sepi... Sementara dibalik sana ada manusia lain yang begitu ingin berurat dan berakar disini....

Singgalang, Marapi, tebing-tebing ngarai... Mereka adalah saksi dan penjaga sebuah nagari sunyi... Indah permai, tapi ditinggalkan. Bersendiri dalam naungan dingin dan kabut...

Koto Gadang / 01062014

Jumat, 24 Oktober 2014

Mahabharata : KUNTI



HATI IBU (1)

Dalam pekat malam, gelap seperti tak berarti lagi. Bukan karena malam ini menjelang pagi, tapi kobar api upacara untuk prajurit yang gugur itulah yang membuat terang padang gersang ini. Aku menatap nyala api yang terdekat dengan ujung tanah bukit tempatku berdiri. Disana, ditengah kobaran api itu, ada tubuh kukuh yang hanya beberapa saat dan beberapa kali bisa kubelai, namun kurindukan sepanjang hidupku. Tubuh itu, adalah anakku... Dia perlaya menjelang senja tadi.

Dan entah mengapa, aku tahu, aku tidak menangis lagi. Mungkin airmataku telah kering, habis tumpah di senja tadi ketika kudapati ia terbaring luka di atas tanah padang yang berdebu dengan nafas tersisa satu-satu... Lalu makin deras tangisku, kala aku harus berani mengungkapkan rahasia yang kusimpan rapat kepada lima lelaki lain yang menatapku penuh tanya.
"Ya, dia ... Dia anakku. Dia kakak tertua kalian...," kataku akhirnya. Tak ada lagi gemetar di bibirku, tak ada rasa takut menghadangku. Aku bahkan tak peduli lagi apa kata mereka tentang diriku dan masa laluku. Yang kutahu, hanya airmata yang makin deras mengucur. Disela mata yang berkabut, aku melihat lima anak yang selalu bersamaku tertunduk dengan wajah pucat.

Dan anakku yang tak pernah bersamaku makin hilang seri wajahnya, kian redup matanya, tapi masih ada senyum lembut terkilas di bibirnya. Setitik air mataku jatuh di dahinya, di kepala yang tergeletak dipangkuanku... Seketika aku ingin berteriak! Melepaskan beban rahasia yang kutanggung sendiri selama ini dan penyesalan atas ketidakberanianku mengungkapkan kebenaran kepada lima anakku pada awal waktu...

Jika saja, seandainya keberanianku telah mencapai puncaknya waktu itu... Mungkinkah kejadian akan berbeda dari saat ini? Dan jika kebenaran itu kusampaikan waktu itu, adakah mereka akan percaya? Adakah dia, yang kuingkari keberadaannya demi nama baik dan kehormatanku, akan percaya begitu saja? Akankah kebenaran itu menjaganya dari kematian ditangan saudaranya sendiri?

Oh, anakku... Seribu kali aku meminta maaf kepadamu atas ketidakhadiranku dimasa lalumu. Tatkala ibumu seharusnya berada disisimu, lalu dimana aku saat itu? Kubiarkan nasib mempermainkanmu... Membawa dirimu ke tempat yang tidak seharusnya... Dan batinmu menderita dalam kegamangan sepanjang hidupmu. Darah ksatria dan Dewa Surya yang mengalir dalam tubuhmu begitu deras menunjukkan siapa dirimu. Tapi begitu banyak pula yang mengabaikanmu hanya karena kau dibesarkan oleh kalangan rakyat biasa... Dan itu karena kesalahanku!

Tapi tahukah kau, anakku... Hatiku, hati ibumu ini tak pernah lepas darimu. Kasih sayang yang menjadi hakmu, yang tersekat dan terhambat, menjadi derita yang kusimpan diam-diam... Dan tahukah kau, aku mencatat dengan sepenuh hati menit demi menit, saat demi saat ketika aku pertamakali melihatmu dijelang masa remajamu di Hastinapura, hingga saat terakhirmu di padang Kurukhsetra ini.

Setelah kematian Raja Pandu

Hari itu, aku dan lima adikmu kembali menapakkan kaki ke Hastinapura. Setelah sekian tahun kami tinggal di hutan mengikuti Raja Pandu, ayah adik-adikmu, mengasingkan diri dan meletakkan mahkota Hastipura setelah jatuhnya kutukan seorang Resi kepadanya.

Tiga adikmu telah menjelang remaja saat itu. Juga si kembar buah hati dari ibu Madri yang harus menjadi tanggung jawabku sejak ibunya memutuskan melakukan "labuh geni" bersama jenazah Raja Pandu, suami kami, ayah dari lima adikmu. Andaikan kau ada bersama kami, nak... Akankah beban hatiku saat itu menjadi lebih ringan? Akankah segala kelebihanmu mampu menjadi penjaga kami semua?

Anakku, masih sangat kuingat. Ketika kami menapak gerbang kerajaan, rakyat Hastinapura berkerumun sepanjang jalan menyambut kedatangan kami yang baru kembali dari pengasingan diri...
Tiba-tiba dari kerumunan itu muncul sesosok tubuh yang menyeruak maju menghadap ke arahku. Seorang pemuda tampan. Matanya menatap tepat kemataku. Ah, mata itu, seperti helai kelopak lotus. Dan entah mengapa, aku tak hendak berpaling darinya, terasa seperti ada tali tak berwujud yang mengikatku untuk terus berdiri diam menatap wajahnya. Ada rasa sedih dan sakit yang mengaliri hatiku, menambah beban kedukaanku yang telah semula ada karena kematian Raja Pandu. Siapakah pemuda itu?

Rakyat Hastinapura yang semula hanya berdiri menyambut kami, satu persatu mulai berebut mengunjukkan sembah. Lalu pemuda itu secara tak terduga berlutut menundukkan kepala dan tangannya menyentuh ujung kakiku, memberikan penghormatan kepadaku. Aku takjub menatap kepala berambut coklat tua berkilau yang tunduk didepanku. Dan, aku tak kuasa menahan tanganku untuk menyentuh kepala pemuda itu untuk mendoakannya. Tahukah kau, nak, apa yang kurasakan saat itu? Aku seperti menemukan sesuatu, tapi aku tak paham apakah itu. Inginnya aku sejenak lebih lama lagi meletakkan tanganku dikepala pemuda itu. Tapi keinginanku serentak luruh dengan ajakan lima anakku untuk terus berjalan menuju istana.

Nak... Beberapa saat setelah aku beranjak dan berlalu, dihatiku timbul pertanyaan yang tak bisa kujawab. Dan aku tak tahu kepada siapa aku harus bertanya. Dirimukah pemuda itu, anakku? Tapi mungkinkah kau berada di Hastinapura, sedangkan waktu kelahiranmu aku berada jauh dari sini? Pertanyaan itu tak pernah terjawab olehku sendiri. Hingga suatu hari, untuk kedua kalinya, bertahun-tahun setelah itu, aku kembali melihatmu.

Rangbhoomi di Hastinapura

Anakku, inilah kali pertama aku melihatmu setelah dewasa dan kali ini pula aku menyadari bahwa kau adalah pemuda yang sama yang kutemui di gerbang istana bertahun-tahun yang lalu! Ya, Dewa Surya telah memberikan tanda kehadirannya padaku dalam bentuk seorang bayi lelaki, yaitu kau, anakku.

Aku memohon maafmu, Nak... Karena kelahiranmu saat itu sungguh membuatku tak bisa berpikir dengan jernih. Aku, dalam usia remaja, bahkan belum bersuami, tapi dihadapkan pada kenyataan bahwa aku memiliki seorang putra. Kau bayi yang tampan... Lahir dengan anting ditelinga dan perisai yang menyatu dengan tubuhmu. Dewa Surya ternyata memenuhi permintaanku agar putra anugrahnya memiliki sesuatu yang menandakan bahwa engkau adalah anakku.

sumber : Starplus
sumber : Starplus
Tapi, seelok apapun dirimu, nak... Maafkan kelemahanku yang merasa pasti tak sanggup menghadapi pertanyaan yang muncul karena kehadiranmu tanpa seorang suami disisiku. Akan terlalu banyak yang terluka karena kebodohanku mencoba menggunakan mantra dari Resi Durwasa. Ayahku sebagai raja, citra kerajaan Kuntibhoj, dan diriku sendiri.

Maafkan aku, nak. Saat itu ibumu yang dungu dan naif ini terpaksa mengambil cara yang kejam untuk menutupi kehadiranmu. Hatiku menangis perih kala engkau berada dalam buaianku. Engkau tetap anakku, meskipun hanya berbilang jam dan hari aku sempat menimangmu. Menetes deras airmataku ketika aku meletakkan tubuh mungilmu dalam keranjang yang kualasi tilam beludru dan kurangkum bunga lotus disekeliling tubuhmu.

Pagi itu, aliran sungai Aswa akhirnya membawa keranjang berisi tubuh mungilmu pergi menjauh dariku. Selayak membersihkan namaku dan kehormatanku sebagai putri raja... Aku mencintaimu, anakku. Tapi aku tak bisa bersamamu. Semoga kelak engkau ditemukan oleh manusia berbudi yang mengasihi, menyayangi dan mendidikmu menjadi lelaki sejati... Aku menangis menatap keranjang yang makin jauh terbawa arus sungai.

Dan sekarang, di arena Rangbhoomi, aku meyakini bahwa pemuda yang muncul tiba-tiba itu adalah dirimu. Kau elok dan tampan, anakku. Dewa Surya telah bermurah hati memberikan tanda-tanda kegemilangannya pada dirimu. Tubuhmu kukuh dengan kulit hampir sewarna tembaga. Wajah tampanmu berkilau dengan mata secerah kelopak lotus, rambutmu tergerai jatuh di bahu yang lapang menatap dunia. Dunia yang ternyata tak berpihak padamu.
 
sumber : Sukanya - Ahamcolic, Starplus
Seperti singa gunung kau tiba-tiba muncul di tengah arena. Menantang salah seorang ksatria yang sebenarnya adalah adikmu sendiri. Aku hampir berteriak menghentikan adu tanding antara kau dan adikmu. Terlebih ketika adikmu, Arjuna, menghujanimu dengan anak panah. Tapi semuanya tertahan oleh perisai yang bersinar seperti emas dan melekat didadamu. Tak mungkin. Tak boleh terjadi. Tapi kemudian aku tak ingat apapun, tubuhku lunglai dan pandanganku menghilang.

Aku terjaga dari mati suri dengan hati yang sakit. Dalam tidurku aku melihatmu tersenyum memandangku. Oh, anakku, maafkan ibumu... Mendekatlah padaku, nak. Aku ingin memelukmu, mendendangkan senandung pengantar tidurmu. Sesuatu yang belum pernah kulakukan sebagai ibumu. Tanganku terulur menggapaimu, mengharapkan kau datang dalam rengkuhanku. Tapi tiba-tiba kau lenyap dan aku berteriak memanggil namamu hingga aku terjaga dengan hati perih.

Selasar Istana Hastinapura

Aku berjalan setengah berlari kearahmu. Oh, kau harus tahu, nak. Aku adalah ibumu! Kau adalah saudara tertua bagi kelima adik-adikmu. Aku harus mengatakan ini padamu. Ketika aku menyebutkan namamu, engkau menghentikan langkah dan berbalik menghadapku. Lalu dalam hitungan detik, aku terpukau.

Oh, anakku, Dewa Surya telah memberikan kemilaunya padamu dengan nyata dalam pandanganku, terlebih dengan pakaian kebesaran raja, mahkota dan uttariya keemasan yang kau sandang.
"Ibu Ratu..," sapamu sambil mengunjukkan tanda hormat. Aku kehilangan kata-kata. Semua kata yang telah kususun menghilang entah kemana. "Sejak pertama kali aku melihat Ibu Ratu, aku selalu teringat pada bunga lotus dan ingin mempersembahkannya  kepadamu," katamu lagi sambil meletakkan lotus itu di depan ujung kakiku. Ah, aku bahkan tak sempat melihat kapan kau melangkah memetik bunga itu...

sumber : Starplus 
Lima adikmu kemudian muncul dan berdiri diselilingku, memutuskan kebisuan yang menghinggapi diriku sejak pertama berhadapan denganmu. Selanjutnya hanya kata-kata bernada permusuhan dan ancaman yang terlontar diantara kalian. Kau disatu pihak dan lima adikmu dipihak lainnya. Adikmu dengan kalimat penghinaan karena kau bukan bangsawan seperti mereka. Bahwa kau hanya seperti seekor itik yang ingin menjadi seekor merak, kata mereka. Dan kau pun dengan arogan berucap bahwa kau akan sanggup mengalahkan ksatria dan bangsawan manapun termasuk lima lelaki yang berada disekelilingku. Arjuna adalah adikmu sendiri yang kau beri sumpah, bahwa dalam pertempuran kelak, anak panahmu akan mengejarnya sampai kemanapun. Perang kata-kata itu berakhir dengan kaki adikmu yang sengaja menginjak dan melumatkan bunga lotus yang tadi kau persembahkan padaku.

Bersusah payah aku menahan tangis demi melihatmu hanya terpaku memandang bunga lotus yang sudah tak berbentuk karena injakan kaki adikmu. Seharusnya aku bersuara, berkata dengan tegas kepada lima adikmu bahwa sebagai ksatria, tak selayaknya mereka berlaku sedemikian rupa. Terlebih engkau adalah saudara tertua mereka. Tapi selagi aku menyusun kekuatan untuk menyuarakan itu, adikmu telah merengkuhku untuk meninggalkan dirimu yang hanya bisa memandangku dari kejauhan. Hatiku menangis lagi. Nak, semoga kau bisa menerima kata hatiku bahwa aku adalah ibu yang melahirkanmu...

Keberangkatan ke Wanamarta

Untuk kesekian kali, kembali aku bertemu dan berhadapan denganmu, anakku. Begitu dekat. Aku bahkan bisa mendengar isakmu yang tertahan dan melihat matamu berkaca-kaca lalu mengalirkan airmata. Apa yang ada di benakmu saat itu, hingga kau mengucurkan airmata untukku?

Hari itu, aku dan adik-adikmu meminta diri kepada Raja dan Ratu Hastinapura, kepada petinggi kerajaan dan kerabat istana. Kau hadir disana, tentu sebagai kerabat, karena atas prakarsa Putra Mahkota Hastinapura engkau telah dinobatkan sebagai Raja Angga.

Aku mengerti betapa Putra Mahkota sangat terkesan pada kemampuanmu melawan adikmu di arena Rangbhoomi. Saat begitu banyak orang yang tak memandang kemampuanmu bahkan menghinakanmu  karena kau bukan bangsawan, Putra Mahkota Duryodhana membela dan seketika itu juga menobatkan dirimu sebagai Raja Angga. Itukah yang membuatmu akhirnya mengangkat sumpah setia kepada Putra Mahkota? Tapi tahukah kau, Nak, seperti apa perilaku Putra Mahkota terhadap adik-adikmu? Ia telah menempatkan diri sebagai musuh adik-adikmu. Dan kini kau berada di pihak mereka untuk menghadapi adik-adikmu sendiri?

Jauh dihati aku menyadari bahwa aku punya peran besar yang tidak kau mengerti. Kebimbanganku untuk terus menutup rahasia kelahiranmu, itu yang menempatkan dirimu pada tempat yang salah. Jiwa ksatria demikian kental pada darahmu. Namun lingkungan tempat kau dibesarkan tidak memperkenanmu untuk itu. Kepahitan demi kepahitan kau terima ; Penolakan Guru Drona untuk menerimamu sebagai murid karena kau seorang sudra. Kau pun harus menyembunyikan jatidirimu agar bisa menjadi murid Resi Parashuram, dan akhirnya membuahkan kutukan pada dirimu. Nasib dan kepahitan hidupmu adalah karena aku. Lalu bagaimana aku harus meluruskan kesalahan yang telah terjadi sekian lama?

Dan kini, mengapa kau meneteskan airmata di hadapanku, Nak? Bukankah kau sekarang adalah Raja Angga, putra Adhirata dan Radha? Bukankah aku belum membuka jatidirimu dan mengungkap siapa aku bagi dirimu? Lalu mengapa kau menangis seakan aku adalah orang yang sangat berarti bagimu?

Ketika aku tiba di depanmu, engkau seperti biasa menghaturkan sembah penghormatan dengan menyentuh ujung kakiku. Aku terpana saat kau bangkit dengan airmata tergenang di sudut matamu. Tanganku terulur begitu saja menyentuh sisi wajahmu, dan aku tak hendak menahan laju gerak tanganku ini untuk menyentuhmu. Kau anakku! Dan cinta seorang ibu kepada anaknya demikian penuh membuncah di hatiku.Tak bisa menipu.

sumber : Aham Sharma FC
"Semoga engkau tetap melangkah di jalan kebenaran. Karena kekuasaan itu seperti merkuri yang bisa melarutkan emas kebaikan..." Itu yang kukatakan kepadamu. Karena sejujurnya, aku sangat menyayangkan dirimu yang berada dilingkaran hidup Putra Mahkota. Sedangkan aku tahu, Adhirata dan Radha telah memberikan bekal nilai-nilai dharma kepadamu meskipun kau bukan putra kandungnya. Dan pada saatnya nanti, aku harus mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Tanganku masih menyentuh sisi wajahmu ketika airmata menetes dan mengalir dipipimu. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu, nak? Demikian besarkah kesedihanmu yang tak dapat kuketahui dan kumengerti? Setetes airmatamu bahkan jatuh di depan ujung kakiku. Aku kemudian melangkah meninggalkanmu dengan ketidakmengertian. Kereta dan adik-adikmu telah menungguku untuk segera menuju Wanamarta. Diatas kereta, airmata dan wajah sedihmu masih terbayang olehku. Tak terasa airmata mengalir membasahi pipiku. Saat aku menoleh ke tempatmu berdiri, kau masih tegak menatap kearahku. Tetap dengan wajah sedihmu yang sama sekali tak kumengerti. Dalam kebutaan hatiku untuk memahami kedukaanmu, aku merasa tersanjung oleh airmatamu, Nak. Kau harus tahu itu...

Jauh sesudah kejadian itu, setelah aku dan adik-adikmu selamat dari istana di Wanamarta yang terbakar dan kembali ke Hastinapura, aku baru memahami arti kesedihanmu kala itu. Aku yakin, sebagai sahabat Putra Mahkota kau mengetahui rencananya namun kau tak mampu mencegahnya dari pengaruh paman Shakuni. Dan itu kiranya yang menjadikan kesedihan dan airmata pada dirimu saat keberangkatanku dulu... Saat kami kembali ke Hastinapura, aku melihat wajahmu bersinar dan sekilas senyum lembut ketika pandanganku bertemu denganmu. Nak, betapa aku berbahagia karenanya ; Kebajikan masih tinggal dalam dirimu...

Gerbang Batas Hastinapura

Hari itu, aku mendengar terjadinya kericuhan di gerbang batas kerajaan Hastinapura. Ratusan rakyat Hastinapura yang hendak berpindah ke Indraprastha tidak diijinkan pergi. Gerbang ditutup dengan paksa sehingga beberapa keluarga tercerai berai karenanya. Sebagian telah berada di luar gerbang, dan sebagian lagi tertinggal di dalam Hastinapura. Dan aku mendengar, bahwa engkau yang ditugaskan untuk menutup paksa gerbang itu bersama seorang adik Putra Mahkota, Pangeran Dushasan.

Dorongan hatiku yang membuat aku ingin segera berada di tempat itu, terlebih setelah aku mendengar kau ada disana. Aku tiba disana ketika engkau sedang berdebat dengan seorang gadis. Mungkin ia salah seorang penduduk Hastinapura yang ingin agar diijinkan keluar gerbang menuju Indraprastha.

sumber : Google
Aku mendengar sebagian kata-kata gadis itu padamu, bahwa tidak hanya pada diri manusia terletak ketidakbenaran, tetapi juga pada mahkota yang dikenakannya. Gadis itu bijak dan berani. Ia berjalan menuju pintu gerbang tanpa mempedulikan seruan dan ancamanmu. Ah, aku mendengar kau menyebut nama gadis itu, Vrushali. Pastinya kau telah mengenal gadis itu bukan? Lalu mengapa aku melihat wajahmu seperti tak yakin dengan apa yang kau serukan, Nak? Kau seperti ragu-ragu dengan tindakanmu sendiri.

Aku mengerti kau berada dalam kebimbangan. Kau tahu makna kebenaran, tapi kau harus melaksanakan perintah sesuai dengan sumpahmu dan kedudukanmu sekarang. Saat itu juga aku berpikir bahwa aku harus membantumu menentukan sikap. Aku turun dari kereta seraya menyebutkan namamu. Kau menoleh lalu memandang tepat ke arah mataku, dan aku melihat wajahmu yang terkejut. Gadis itu, Vrushali, juga berbalik dan memandangku dengan takjub.

Aku mengatakan padamu bahwa memisahkan seorang anak dari keluarga, terutama ibunya adalah tindakan salah dan aku memintamu untuk tidak melakukan itu. Oh, nak....tahukah dirimu, bahwa aku mengatakan itu juga untuk diriku sendiri? Aku ibu kandungmu, tapi aku juga yang merenggutkan dirimu dariku dengan sengaja. Ada rasa malu dan pedih yang menyerang perasaanku saat itu. Tapi engkau mengangguk mendengar pintaku dan memerintahkan tentara kerajaan agar menyingkir dari sisi Vrushali. Pangeran Dushasan memprotes tindakanmu, tapi dengan tegas kau berkata ;
"Jangan mendebat, Pangeran. Ini adalah perintah Ibu!"
Oh, hatiku berdesir mendengar kau menyebutkan kata "ibu" untuk kata ganti diriku, bukan "Ibu Ratu" seperti sebelumnya. Seandainya... Seandainya pun kau memanggilku langsung dengan sebutan itu, aku tak akan menolak, Nak. Karena kau memang anakku!

Kau lalu menunduk dengan wajah memerah. Sekilas aku melihat matamu berkaca-kaca. Aku memutuskan kemudian bahwa gadis itu dalam perlindunganku di Hastinapura, dan pada saatnya nanti akan berangkat bersamaku ke Indraprastha. Dibalik itu, sungguh aku ingin agar kau menjauh dari lingkaran kekuasaan Putra Mahkota agar kau terbebas dari dua kutub yang saling berseberangan. Maka aku hanya bisa meninggalkan kata-kata untuk menguatkan agar kau tetap ingat dan berada di jalan kebenaran. Kau hanya terdiam mendengar pesanku yang kusampaikan dengan suara bergetar. Kemudian aku beranjak menuju kereta bersama Vrushali, meninggalkanmu yang berdiri di gerbang istana dengan wajah memerah dan mata berkabut. Pasti kau tak tahu, bahwa saat itu hatikupun merasakan perih ; Karena kesalahanku maka saat ini kau terjebak berada di tempat salah. Dan aku kembali menyesali ketidakberanianku mengungkap kebenaran jatidirimu. Maafkan ibumu, nak...

Selayaknya seorang ibu. Meskipun aku adalah ibu yang melahirkan dirimu tanpa pernah kau tahu, aku tetap menginginkan yang terbaik untukmu. Betapa ingin aku melihatmu menjauh dari lingkungan para Kurawa. Betapa khawatirnya diriku jika kebenaran yang kau miliki luntur karena kedekatanmu dengan mereka.

Tapi dengan sumpah yang telah kau ucapkan kepada Pangeran Duryudhana, mungkinkah kau akan sanggup berpaling mengkhianati janjimu? Atau, jika kau tahu kebenaran jatidirimu yang selama ini tersimpan rapat padaku, akankah itu mampu mengalihkan pendirianmu? Tapi  yang terpenting adalah, kapan aku memiliki waktu dimana aku mampu berkata jujur kepadamu? Aku menyadari kemudian bahwa aku tak lebih dari seorang pengecut. Kumohon kau mau memaafkan untuk itu... (to be continued)


Rawamangun - 23102014

*) Diceritakan kembali, berdasarkan tayangan serial Mahabharata versi Starplus India.