https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10205047094570862&id=1647807330
Baby blues atau depresi pasca melahirkan, menurut penelitian, dialami oleh 80% perempuan yang baru saja bersalin.
Dan saya mungkin termasuk dalam 80% itu. Tiga kali melahirkan, tiga kali pula saya mengalami baby blues.
Masih terbayang ketika si Sulung belum genap 3 bulan dan waktu tidurnya belum teratur ; Malam sampai subuh dia melek, pagi sampai sore malah tidur. Saya begadang, menggendongnya semalaman. Saat dia menangis, saya ikut menangis berurai airmata sambil menahan kantuk, karena tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan untuk menenangkannya.
Kadang pula saya merasa betapa tidak mampunya saya menjadi seorang ibu sejati yang sempurna, karena ASI yang tidak melimpah sehingga si Sulung juga harus diberi tambahan sufor. Oh, lengkap rasanya penyebab depresi saya.
Kelahiran si Tengah, tiga tahun berikutnya? Ah, jangan berpikir hal yang seharusnya terhadap perempuan yang baru melahirkan. Karena meskipun disebut "sudah berpengalaman melahirkan" pun tidak menghapus kemungkinan seorang ibu untuk tidak terkena baby blues.
Saya masih ingat hari itu. Suatu siang, adikku tersayang menyambangi saya di rumah, menengok keponakannya yang baru lahir. Sekian waktu setelah mengobrol ini itu, tiba saatnya dia berpamitan, saya merasakan kesedihan luar biasa yang saya tidak tahu sebabnya apa. Pokoknya, saya hanya ingin menangis sekerasnya dan sekejer-kejernya. Begitulah. Saya mengantarnya ke pintu pagar dengan airmata meleleh dipipi. Dan setelah dia menjauh, saya pun menangis tersedu-sedu sendirian. Apa sebabnya? Sampai sekarang saya tidak tahu.
Melahirkan untuk ketiga kalinya, dua tahun kemudian pun ternyata tidak membuat saya menjadi tahan banting dan anti cengeng.
Hadirnya kembali seorang bayi yang sangat tergantung pada saya, membuat saya merasa lelah. Setiap kali menghadapi si Bungsu yang sedang rewel, saya merasa betapa lelahnya saya. Betapa jauhnya waktu yang harus saya jalani untuk kelelahan ini. Saya pun kembali menjadi cengeng, sering menangis. Dan lebih gawat lagi, saya menjadi pemarah. Padahal dibanding kedua kakaknya, si Bungsu ini tergolong bayi yang manis dan relatif jarang rewel.
Barangkali seorang teman kantor (waktu itu saya masih bekerja dan dalam masa cuti melahirkan), mbak Darni Nani, masih ingat ketika saya menelponnya sambil menangis tersedu-sedu pada suatu siang. Saya pun tidak tahu apa yang harus saya katakan kepadanya waktu itu, selain hanya ingin menangis saja. Hingga dia pun agak kebingungan menanggapi.
Saya ingat, waktu itu dia bertanya, “Mbak, kenapa mbak? Baby nya nggak apa-apa kan? Sehat kan?”
Saya hanya menjawab sekenanya, “Nggak apa-apa, mbak Nani…”
“Lha, terus kenapa mbak?”
“Nggak tahu… Pingin nangis aja…,” jawab saya sambil melanjutkan sedu sedan.
Tapi herannya, setelah menangis dan “memberitahukan tangisan” saya kepada orang lain, saya merasa lega.
Inti ceritanya ; Saya hanya ingin mengingatkan. Jangan biarkan seorang “ibu baru” menjalani hari-harinya sendirian. Temani, bantu… atau setidaknya dengarkan keluhannya. Jangan hadapkan dia dengan sederet aturan dan nasehat tentang ibu dan bayi yang ideal. Jangan hujani dia dengan kata-kata “harus begini harus begitu” karena itu akan membebani perasaan dan pikirannya. Manjakanlah dia untuk beberapa waktu sampai hilang lelah dan letih fisik dan mentalnya, setelah menjalani 9 bulan 10 hari kehamilan dan persalinan yang penuh perjuangan.
Hanya beberapa waktu… Dan selebihnya dia akan menjadi seorang ibu yang menemani dan menopang hari-hari dalam keluarganya hingga selesai usianya. Berapa tahun? Mungkin berpuluh tahun kemudian. Tidak banyak bukan, waktu yang dimintanya dibanding puluhan tahun yang akan diberikannya dimasa mendatang?
Pondok Gede - 07052016
Minggu, 22 Mei 2016
Literasi Media
Saran saya, jangan mudah percaya, nge-like dan nge-share berita dari situs berita abal-abal... Salah-salah kita malah terjebak dalam bisnis e-hate ; Pemilik situs yang dapat duitnya, kita malah dapat pengurangan hitungan pahala... karena tanpa sadar turut menyebarkan berita kebencian, fitnah dan berita yang di-spin.
Ada yang bilang, media alternatif diperlukan, karena media mainstream, konon kabarnya sudah "dibeli" oleh penguasa... Tapi mbok iyao... jangan media alternatif macam begini yang diikuti dan dipercayai.
Jaman sudah bergerak makin cepat dan makin "terbuka". Informasi mengalir makin deras dari mana saja. Akses internet juga makin mudah. Seharusnya kemudahan seperti ini membuat kita makin rajin berwisata ke dunia informasi. Sehingga kita makin tercerahkan, makin bisa memiliki sedikit pengetahuan untuk membedakan dan membuat komparasi, melakukan check dan recheck, mana berita yang benar dan mana berita abal-abal yang disebar sekedar untuk cari duit.
Jamannya sudah berbeda. Duluuuu.... sebelum era reformasi, memang kita haus berita alternatif. Karena dulu yang boleh tampil di permukaan hanya berita yang bagus-bagus dan baik-baik saja. Melenceng dari pakem yang dibolehkan, siap-siap saja media itu dibredel... Atau pengelola media dijemput paksa. Yang paling pahit ya pulang tinggal nama.
IMHO, pada jaman pra reformasi, berita dari media alternatif memang berita yang bernas, karena penulis dan penyebarnya punya idealisme "mengungkap fakta yang ditutupi".
Berbeda dengan sekarang. Segala bentuk dan jenis berita boleh tampil dimana saja. Dan idealisme "mengungkap fakta yang ditutupi" pun sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Yang ada sekarang hanya fakta bahwa berita fitnah, berita hoax, berita hasil spin bisa mendatangkan uang. Begitu. Sederhana kan? Ujung-ujungnya hanya duit ternyata. 😐
Pondok Gede - 09042016
Ada yang bilang, media alternatif diperlukan, karena media mainstream, konon kabarnya sudah "dibeli" oleh penguasa... Tapi mbok iyao... jangan media alternatif macam begini yang diikuti dan dipercayai.
Jaman sudah bergerak makin cepat dan makin "terbuka". Informasi mengalir makin deras dari mana saja. Akses internet juga makin mudah. Seharusnya kemudahan seperti ini membuat kita makin rajin berwisata ke dunia informasi. Sehingga kita makin tercerahkan, makin bisa memiliki sedikit pengetahuan untuk membedakan dan membuat komparasi, melakukan check dan recheck, mana berita yang benar dan mana berita abal-abal yang disebar sekedar untuk cari duit.
Jamannya sudah berbeda. Duluuuu.... sebelum era reformasi, memang kita haus berita alternatif. Karena dulu yang boleh tampil di permukaan hanya berita yang bagus-bagus dan baik-baik saja. Melenceng dari pakem yang dibolehkan, siap-siap saja media itu dibredel... Atau pengelola media dijemput paksa. Yang paling pahit ya pulang tinggal nama.
IMHO, pada jaman pra reformasi, berita dari media alternatif memang berita yang bernas, karena penulis dan penyebarnya punya idealisme "mengungkap fakta yang ditutupi".
Berbeda dengan sekarang. Segala bentuk dan jenis berita boleh tampil dimana saja. Dan idealisme "mengungkap fakta yang ditutupi" pun sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Yang ada sekarang hanya fakta bahwa berita fitnah, berita hoax, berita hasil spin bisa mendatangkan uang. Begitu. Sederhana kan? Ujung-ujungnya hanya duit ternyata. 😐
Pondok Gede - 09042016
Sabtu, 02 April 2016
Hati Perempuan Sedalam Samudra
Suatu siang di sebuah kamar tidur ;
Istri : Iiihh... sesekali aku nggak ikut pergi kenapa sih?
*bersungut-sungut, membereskan tas yang akan dibawa pergi*
Suami : Kenapa?
Istri : Emang aku harus ya, ikut pergi?
Suami : Ya udaaah, nggak apa kalo nggak mau ikut. Aku sama anak-anak pergi berempat. Ibu dirumah aja...
*wajah cool agak cuek*
*sambil tetap menyisir rambut di depan cermin*
Istri : Aaa... nggak segitunya juga kaliiiiii... Jadi aku nggak boleh ikut nih??!
*cemberut agak emosi*
Suami : Lhooo... katanya tadi nggak mau pergi..??
*bingung*
Istri : Tapi aku kan udah dandan. Masa' nggak jadi pergiiii... ??
*nada meninggi*
Suami : Oooo...
*melongo, lalu gigit-gigit sisir*
Ternyata hati perempuan sedalam samudra... Dan para lelaki harus menyelam jauh ke dasar laut agar benar-benar tahu apa yang dimaui para perempuan.
Tahu tidak, apa yang sebenarnya diharapkan oleh Istri? Dia hanya ingin Suami membujuk dan merayunya untuk ikut pergi. Karena Suami demikian "lurus"nya, maka Istri jadi kesal dan Suami pun bingung.
😊😀😁
Pondok Gede - 24012015
Istri : Iiihh... sesekali aku nggak ikut pergi kenapa sih?
*bersungut-sungut, membereskan tas yang akan dibawa pergi*
Suami : Kenapa?
Istri : Emang aku harus ya, ikut pergi?
Suami : Ya udaaah, nggak apa kalo nggak mau ikut. Aku sama anak-anak pergi berempat. Ibu dirumah aja...
*wajah cool agak cuek*
*sambil tetap menyisir rambut di depan cermin*
Istri : Aaa... nggak segitunya juga kaliiiiii... Jadi aku nggak boleh ikut nih??!
*cemberut agak emosi*
Suami : Lhooo... katanya tadi nggak mau pergi..??
*bingung*
Istri : Tapi aku kan udah dandan. Masa' nggak jadi pergiiii... ??
*nada meninggi*
Suami : Oooo...
*melongo, lalu gigit-gigit sisir*
Ternyata hati perempuan sedalam samudra... Dan para lelaki harus menyelam jauh ke dasar laut agar benar-benar tahu apa yang dimaui para perempuan.
Tahu tidak, apa yang sebenarnya diharapkan oleh Istri? Dia hanya ingin Suami membujuk dan merayunya untuk ikut pergi. Karena Suami demikian "lurus"nya, maka Istri jadi kesal dan Suami pun bingung.
😊😀😁
Pondok Gede - 24012015
Jumat, 01 April 2016
Tak Ada Yang Abadi
Melihat foto ini jadi tersenyum sendiri. Hehehe... yang namanya Pemilu di negara tercinta ini duluuuuu... cukup diikuti oleh 3 partai. Irit kertas kan? Tidak seperti sekarang yang kertas pemilunya selebar koran dan perlu perjuangan khusus untuk mencoblosnya di bilik pemilu yang sempit tanpa terlihat dan diintip oleh tetangga sebelah... hihi.
Bedanya lagi, kalau pemilu sekarang melibatkan lembaga survei dengan bayaran yang maut, dulu semua itu tidak perlu (lagi-lagi irit toh?). Karena toh pada pemilu waktu itu, sejak awal sudah diketahui siapa yang bakal menang. Alhasil sudah pasti dua peserta pemilu lainnya hanya sekedar pelengkap 'penderita'.
Bicara tentang partai yang selalu menang dimasa lalu, dulu siapa yang berani mengira bahwa era itu suatu waktu akan berakhir?
Jadi ingat, duluuuuu... semasa penataran P4 dan sejenisnya masih marak dan dianggap sesuatu yang sakral, aku pernah mengalami kejadian "menegangkan" ;
Dalam forum diskusi sebuah penataran P4, seorang peserta dengan cueknya melemparkan pertanyaan yang 'menodai' kesakralan forum,
"Pak, kita kan tidak pernah tahu apa yang terjadi dimasa depan kan? Bagaimana pak, kalau ternyata nanti partai *sensor* ini tidak lagi berkuasa. Lalu apa yang akan terjadi, pak?"
Serentak para peserta menolehkan kepala kearah peserta yang 'lancang' itu. Kami melihat wajah bapak penatar agak kaget dan terdiam sebelum menjawab dengan hati-hati (maklum dimasa itu, dindingpun punya telinga)... heuheu.
"Kita harus yakin bahwa kita akan tetap begini. Oleh karena itu diperlukan peran dari setiap kita untuk menjaga agar .... bla....bla....bla...."
Klasik.
Dan ternyata apa yang ditanyakan oleh seorang peserta yang nyleneh itu menjadi kenyataan di tahun 1998. Tak ada yang abadi.
Kenapa aku ingat insiden yang terjadi di tahun 90-an awal itu? Ya iyalah.... karena si peserta yang lancang bertanya itu sekarang adalah ayahnya anak-anakku... 😊
Bedanya lagi, kalau pemilu sekarang melibatkan lembaga survei dengan bayaran yang maut, dulu semua itu tidak perlu (lagi-lagi irit toh?). Karena toh pada pemilu waktu itu, sejak awal sudah diketahui siapa yang bakal menang. Alhasil sudah pasti dua peserta pemilu lainnya hanya sekedar pelengkap 'penderita'.
Bicara tentang partai yang selalu menang dimasa lalu, dulu siapa yang berani mengira bahwa era itu suatu waktu akan berakhir?
Jadi ingat, duluuuuu... semasa penataran P4 dan sejenisnya masih marak dan dianggap sesuatu yang sakral, aku pernah mengalami kejadian "menegangkan" ;
Dalam forum diskusi sebuah penataran P4, seorang peserta dengan cueknya melemparkan pertanyaan yang 'menodai' kesakralan forum,
"Pak, kita kan tidak pernah tahu apa yang terjadi dimasa depan kan? Bagaimana pak, kalau ternyata nanti partai *sensor* ini tidak lagi berkuasa. Lalu apa yang akan terjadi, pak?"
Serentak para peserta menolehkan kepala kearah peserta yang 'lancang' itu. Kami melihat wajah bapak penatar agak kaget dan terdiam sebelum menjawab dengan hati-hati (maklum dimasa itu, dindingpun punya telinga)... heuheu.
"Kita harus yakin bahwa kita akan tetap begini. Oleh karena itu diperlukan peran dari setiap kita untuk menjaga agar .... bla....bla....bla...."
Klasik.
Dan ternyata apa yang ditanyakan oleh seorang peserta yang nyleneh itu menjadi kenyataan di tahun 1998. Tak ada yang abadi.
Kenapa aku ingat insiden yang terjadi di tahun 90-an awal itu? Ya iyalah.... karena si peserta yang lancang bertanya itu sekarang adalah ayahnya anak-anakku... 😊
Bibit Unggul Tak Berlanjut
Pelajaran dari sejarah bangsa ; Jangan menyia-nyiakan bibit unggul dan talenta yang sudah dikaruniakan pada suatu bangsa.
Enam hingga tujuh dekade yang lalu, satu bangsa memiliki banyak bibit unggul. Anak-anak bangsanya tampil ke permukaan menjadi pemikir, politikus, negarawan, sastrawan, dan bentuk-bentuk keunggulan lainnya. Tapi sayang, beberapa dekade kemudian, bibit-bibit unggul tadi tak berlanjut, mata rantainya seperti terputus tak berbekas. Kemana rupanya generasi penerus bibit unggul tadi? Hanya beberapa saja yang mau dan mampu tampil melanjutkan keunggulan mereka. Selebihnya, banyak yang memilih menjalani profesi yang dengan cepat bisa mendatangkan materi ; pengusaha tanggung, artis, selebriti...
Kemana bibit unggul yang mereka miliki dulu? Bahkan sekarang bangsa sebelah yang sebelumnya tak pernah mereka perhitungkan lebih mampu tampil ke permukaan.
Pelajaran lainnya ; Jangan hanya cemburu kepada bangsa lain, dengan dalih bangsa lain punya keuntungan populasi, demografi dan politis.
Untuk bisa tampil menjadi yang terdepan bukan hanya bermodal keuntungan populasi, demografi, media dan politis. Perlu niat, kemauan, usaha dan kerja keras.
Kalau memang tak punya niat, bagaimana keunggulan bisa datang dengan sendirinya? Kalau alasannya karena populasi, mengapa tak memperbanyak jumlah keturunan (untuk sementara lupakan dulu program KB dan sejenisnya). Kalau karena demografi, bukankah bangsa ini terkenal dgn etos merantau? Kalau karena media, mengapa tidak membuat media yang sudah ada menjadi lebih me-nasional untuk memperkenalkan bibit-bibit unggulnya?
Kalau karena alasan politik, mengapa tak berusaha masuk ke area politik untuk mengubah nasib bangsa? Jangan-jangan hilangnya bibit unggul itu karena memang tidak ada niat untuk merawat keunggulan mereka.
29102011
Enam hingga tujuh dekade yang lalu, satu bangsa memiliki banyak bibit unggul. Anak-anak bangsanya tampil ke permukaan menjadi pemikir, politikus, negarawan, sastrawan, dan bentuk-bentuk keunggulan lainnya. Tapi sayang, beberapa dekade kemudian, bibit-bibit unggul tadi tak berlanjut, mata rantainya seperti terputus tak berbekas. Kemana rupanya generasi penerus bibit unggul tadi? Hanya beberapa saja yang mau dan mampu tampil melanjutkan keunggulan mereka. Selebihnya, banyak yang memilih menjalani profesi yang dengan cepat bisa mendatangkan materi ; pengusaha tanggung, artis, selebriti...
Kemana bibit unggul yang mereka miliki dulu? Bahkan sekarang bangsa sebelah yang sebelumnya tak pernah mereka perhitungkan lebih mampu tampil ke permukaan.
Pelajaran lainnya ; Jangan hanya cemburu kepada bangsa lain, dengan dalih bangsa lain punya keuntungan populasi, demografi dan politis.
Untuk bisa tampil menjadi yang terdepan bukan hanya bermodal keuntungan populasi, demografi, media dan politis. Perlu niat, kemauan, usaha dan kerja keras.
Kalau memang tak punya niat, bagaimana keunggulan bisa datang dengan sendirinya? Kalau alasannya karena populasi, mengapa tak memperbanyak jumlah keturunan (untuk sementara lupakan dulu program KB dan sejenisnya). Kalau karena demografi, bukankah bangsa ini terkenal dgn etos merantau? Kalau karena media, mengapa tidak membuat media yang sudah ada menjadi lebih me-nasional untuk memperkenalkan bibit-bibit unggulnya?
Kalau karena alasan politik, mengapa tak berusaha masuk ke area politik untuk mengubah nasib bangsa? Jangan-jangan hilangnya bibit unggul itu karena memang tidak ada niat untuk merawat keunggulan mereka.
29102011
Pembalut Stres
Membaca berita di media mainstream yang marak sejak kemarin tentang pembalut khusus perempuan ;
IMHO, rasanya kok lembaga konsumen itu kurang bijak merilis hasil penelitiannya diwaktu sekarang. Hasil penelitian terhadap consumer goods yang sangat dekat dan sangat penting bagi kaum perempuan itu, tentu saja membuat resah.... Yang jika dibiarkan bisa menimbulkan stres dan depresi karena kekhawatiran dan ketakutan.
Bayangkan, disaat kaum perempuan di bulan-bulan belakangan sedang sibuk berpikir keras menghadapi tahun ajaran baru anak sekolah, disusul dengan "hura hura konsumtif festival lebaran" .... dicampuri lagi dengan "kampanye" akan terjadinya kebangkrutan negara (mentang-mentang ada negara nun jauh disana yang bangkrut karena hutang), naiknya harga ayam, daging, telur, kelapa dan sejenisnya.... Ehh, tetiba pula harus mendengar berita tentang pembalut khusus wanita yang mengandung klorin dan berbahaya buat kesehatan... Dan celakanya, itu menyangkut merek-merek yang dikenal luas dan digunakan oleh banyak kaum wanita... Beuhh, lalu yang aman apa dong? Masak harus kembali ke cara jaman baheula yang merepotkan itu dan menghabiskan banyak air untuk mencucinya? Hellowww..... air bersih di jaman kekinian kan menjelang langka dan mahal yak?
Nahh, lembaga konsumen yang merilis hasil penelitian itu...Tidakkah mereka memikirkan dampak emosional kaum perempuan (terutama kaum ibu) ketika mendengar berita itu? Tidakkah mereka memperhitungkan kekhawatiran dan ketakutan yang diderita kaum perempuan atas dirinya? Terlebih ketika pembicaraan tentang bahaya benda ini dibarengi dengan "promo" merek tertentu yang diklaim aman (karena berbahan dasar dari alam), daaannn.... tentu saja berharga mahal? 😮😯
Tapi... eehh... jangan sampai setelah ada berita ini.... kaum perempuan terdorong untuk membuat solusi ekstrem dan jalan pintas dengan beramai-ramai mendatangi bidan atau dokter kandungan untuk meminta pil atau suntikan penunda haid.... Yang pada gilirannya akan mempengaruhi hormon tertentu pada tubuh perempuan..... Iih, semoga tidak ada yang berpikiran demikian... ☺
Pondok Gede - 08072015
IMHO, rasanya kok lembaga konsumen itu kurang bijak merilis hasil penelitiannya diwaktu sekarang. Hasil penelitian terhadap consumer goods yang sangat dekat dan sangat penting bagi kaum perempuan itu, tentu saja membuat resah.... Yang jika dibiarkan bisa menimbulkan stres dan depresi karena kekhawatiran dan ketakutan.
Bayangkan, disaat kaum perempuan di bulan-bulan belakangan sedang sibuk berpikir keras menghadapi tahun ajaran baru anak sekolah, disusul dengan "hura hura konsumtif festival lebaran" .... dicampuri lagi dengan "kampanye" akan terjadinya kebangkrutan negara (mentang-mentang ada negara nun jauh disana yang bangkrut karena hutang), naiknya harga ayam, daging, telur, kelapa dan sejenisnya.... Ehh, tetiba pula harus mendengar berita tentang pembalut khusus wanita yang mengandung klorin dan berbahaya buat kesehatan... Dan celakanya, itu menyangkut merek-merek yang dikenal luas dan digunakan oleh banyak kaum wanita... Beuhh, lalu yang aman apa dong? Masak harus kembali ke cara jaman baheula yang merepotkan itu dan menghabiskan banyak air untuk mencucinya? Hellowww..... air bersih di jaman kekinian kan menjelang langka dan mahal yak?
Nahh, lembaga konsumen yang merilis hasil penelitian itu...Tidakkah mereka memikirkan dampak emosional kaum perempuan (terutama kaum ibu) ketika mendengar berita itu? Tidakkah mereka memperhitungkan kekhawatiran dan ketakutan yang diderita kaum perempuan atas dirinya? Terlebih ketika pembicaraan tentang bahaya benda ini dibarengi dengan "promo" merek tertentu yang diklaim aman (karena berbahan dasar dari alam), daaannn.... tentu saja berharga mahal? 😮😯
Tapi... eehh... jangan sampai setelah ada berita ini.... kaum perempuan terdorong untuk membuat solusi ekstrem dan jalan pintas dengan beramai-ramai mendatangi bidan atau dokter kandungan untuk meminta pil atau suntikan penunda haid.... Yang pada gilirannya akan mempengaruhi hormon tertentu pada tubuh perempuan..... Iih, semoga tidak ada yang berpikiran demikian... ☺
Pondok Gede - 08072015
Bila Kelak Lanjut Usia
Selama ini, dalam pandanganku, Ibuku yang tahun ini akan berusia 73 tahun adalah seorang perempuan yang tegar. Lebih kuat dan tegar dibanding Bapakku, yang tahun ini akan menginjak usia 74 tahun, yang selama ini kupandang lebih emosional dan mudah mencucurkan airmata dibanding istrinya...
Tapi kemarin, melalui percakapan di telepon, aku sadar bahwa setegar-tegarnya seorang perempuan, Ibuku tetap membutuhkan seorang pelindung dan teman berbagi menghabiskan masa lanjut usianya. Dialah suaminya. Bapakku.
"Bapak sudah sepuh. Ibu juga. Kadang Ibu merasa trenyuh melihat Bapak. Kadang juga Ibu berpikir, kalau misalnya Bapak dipanggil olehNYA duluan... Apa Ibu bisa sendirian nantinya, ya?"
Aku mendengarkan kata-kata Ibu, dengan airmataku yang mengalir begitu saja tak tertahan. Lalu sambil menata suara agar tak terdengar bahwa aku menangis, aku menghibur Ibu. Kukatakan, "Bu, kan banyak orang bilang, istri itu lebih bisa dan lebih kuat jika ditinggal duluan, daripada seorang suami yang ditinggal istrinya..."
Ibuku menjawab, "Ah, ya nggak juga kali.... Ibu sudah bersama Bapakmu sejak 50 tahun yang lalu. Sekarang kemana-mana cuma berdua. Apalagi sejak Bapak dan Ibu pindah ke Yogya. Nggak kebayang kalau Ibu harus sendirian... Ah, tapi kan belum tentu juga ya... Siapa tahu malah Ibu yang pergi duluan...."
(Saat itu juga aku teringat cerita Ibu. Ketika suatu hari Ibu pergi sendiri untuk suatu keperluan. Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Karena cemas kalau Ibu kehujanan, Bapak kemudian tergopoh-gopoh menjemput Ibu. Berjalan kaki hampir sejauh setengah kilometer sambil berpayung dan menenteng satu payung yang lain untuk Ibu).
Aku nggregel lagi mendengar kata-kata Ibuku... Kembali sadar bahwa Bapak dan Ibuku sekarang melewatkan masa lanjut usia hanya berdua, jauh dari anak dan cucunya. Bahwa Ibuku yang selama ini kupandang sebagai perempuan yang tegar, juga memiliki kegamangan jika suatu saat harus ditinggalkan oleh pasangan hidupnya. Satu hal yang mungkin akan juga terjadi pada diri kami kelak... Menjadi tua berdua saja adalah niscaya.
Pondok Gede - 12052015
Tapi kemarin, melalui percakapan di telepon, aku sadar bahwa setegar-tegarnya seorang perempuan, Ibuku tetap membutuhkan seorang pelindung dan teman berbagi menghabiskan masa lanjut usianya. Dialah suaminya. Bapakku.
"Bapak sudah sepuh. Ibu juga. Kadang Ibu merasa trenyuh melihat Bapak. Kadang juga Ibu berpikir, kalau misalnya Bapak dipanggil olehNYA duluan... Apa Ibu bisa sendirian nantinya, ya?"
Aku mendengarkan kata-kata Ibu, dengan airmataku yang mengalir begitu saja tak tertahan. Lalu sambil menata suara agar tak terdengar bahwa aku menangis, aku menghibur Ibu. Kukatakan, "Bu, kan banyak orang bilang, istri itu lebih bisa dan lebih kuat jika ditinggal duluan, daripada seorang suami yang ditinggal istrinya..."
Ibuku menjawab, "Ah, ya nggak juga kali.... Ibu sudah bersama Bapakmu sejak 50 tahun yang lalu. Sekarang kemana-mana cuma berdua. Apalagi sejak Bapak dan Ibu pindah ke Yogya. Nggak kebayang kalau Ibu harus sendirian... Ah, tapi kan belum tentu juga ya... Siapa tahu malah Ibu yang pergi duluan...."
(Saat itu juga aku teringat cerita Ibu. Ketika suatu hari Ibu pergi sendiri untuk suatu keperluan. Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Karena cemas kalau Ibu kehujanan, Bapak kemudian tergopoh-gopoh menjemput Ibu. Berjalan kaki hampir sejauh setengah kilometer sambil berpayung dan menenteng satu payung yang lain untuk Ibu).
Aku nggregel lagi mendengar kata-kata Ibuku... Kembali sadar bahwa Bapak dan Ibuku sekarang melewatkan masa lanjut usia hanya berdua, jauh dari anak dan cucunya. Bahwa Ibuku yang selama ini kupandang sebagai perempuan yang tegar, juga memiliki kegamangan jika suatu saat harus ditinggalkan oleh pasangan hidupnya. Satu hal yang mungkin akan juga terjadi pada diri kami kelak... Menjadi tua berdua saja adalah niscaya.
Pondok Gede - 12052015
Penerus Jabatan
Membaca berita politik di medsos akhir-akhir ini, mendadak saya
merasa ada setitik harapan dalam hidup saya. Harapan untuk satu perubahan dalam
keseharian saya yang berkutat dengan aneka kegiatan domestik. Ya, sudah hampir
sepuluh tahun saya menjalani hidup seperti ini, sebagai ratu rumah.
Tapi seandainya fenomena dunia politik akhir-akhir ini bisa
juga berlaku pada diri saya, pasti bakal menyenangkan sekali.
Bayangkan. Saya akan kembali menjadi wanita bekerja eight to
five. Berangkat dari rumah dengan pakaian kerja modis, sepatu hak sedang (karena saya tidak bisa pakai
stiletto), tas tangan yang cantik, ditambah aksesoris khas perempuan pekerja
metropolitan.
Apa lagi? Oh yaa… tiap pagi saya akan memasuki kantor disalah
satu gedung jangkung di pusat Jakarta. Turun dari mobil, saya akan langsung
disambut oleh hawa segar wangi dari pendingin udara… yang pasti beda aromanya
dengan aroma asap di dapur saya. Seharian, pastinya, saya akan bertemu dan
bergaul dengan orang-orang yang rapi dan wangi, berbicara penuh ilmu dan
inteligensi. Beda dengan pak sayur, pak sampah, atau mbak laundry yang saya
temui setiap hari sekarang.
Aihh… harapan (atau khayalan) saya pun membuncah. Dan karenanya
saya tidak tahan lagi untuk membaginya dengan orang tercintah saya pada suatu
malam, saat dia tengah serius menatap layar gadget.
![]() | |
| *Foto hasil dari Google search |
“Hun…” (Menyentuh lengannya)
“Hmmm…” (Menoleh sedikit)
“Engg… mungkin nggak ya, nanti. Nantiii… setelah jij pensiun,
kerjaan dan jabatan jij itu eike yang lanjutin?”
“Maksud jij?” (Menoleh lagi. Sedikit)
“Iyaa. Jij kan nanti pensiun. Terus eike yang gantiin... “
“Ah. Mana bisa begitu.”
“Bisa dong. Kan sebelum eike married dengan jij, eike pernah
kerja juga di kantor jij. Eike kan terpaksa keluar kerja gegara married sama
jij..!”
“Hmmm…?” (Mulai serius)
“Bisa kan?!”
“Mana ada jabatan bisa dilungsurkan gitu?”
“Ahh… tapi kok kalau gubernur bisa? Dia bakal mencalonkan
istrinya jadi penggantinya?”
“Haahh?”
“Iyaa…. Belakangan malah pak mantan presiden naga-naganya bakal
mengajukan istrinya jadi capres. Jij bisa toh, seperti itu?”
“Hmmm…” (Geleng-geleng kepala)
“Bisa kan? Tanda cinta jij ke eike… seperti pak gubernur dan
pak mantan itu…”
“Ishh… jangan norak! Itu kemaruk namanya!”
Mendengar kalimat terakhirnya, saya pun terdiam. Percakapan berakhir,
karena saya enggan disebut norak dan kemaruk.
Harapan dan khayalan saya pun punah.
Pondok Gede - 16032016
Kekuatan Yang Tersembunyi
![]() |
| *Foto hasil dari Google search |
“You never know how strong you are. Until being strong is only
your choice”
Kalimat itu pernah saya baca disebuah foto yang lewat di
beranda medsos saya. Saya suka kalimat itu. Karenanya saya ingat benar esensi
yang dimaksud oleh penulis kalimat, yang sayangnya tidak disebutkan namanya
dalam foto itu.
Selama ini, saya merasa bahwa saya bukan seorang yang “strong”
atau “tough”, yang dalam pengertian saya berarti “tahan banting”.
Tapi semua menjadi berbeda. Ketika keadaan memaksa, ketika tak
ada orang lain yang bisa dan pantas dimintai tolong, ternyata saya bisa
menjelma menjadi seorang yang kuat. Setidaknya “kuat” dalam ukuran saya
sendiri.
Tak terbayangkan. Saat tengah malam terbangun, saya harus
melihat orang tercinta menekap hidung yang mengucurkan darah. Hal yang tak
pernah saya alami sebelum ini, bahkan sebisa mungkin akan saya hindari untuk
melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Tapi itulah yang harus saya hadapi saat itu.Menemaninya berdiri
sekian menit di depan bak cuci… yang otomatis juga harus melihat darah yang
menetes-netes jatuh menimpa bak cuci, sambil berkali-kali mengangsurkan kapas
dan menarik berlembar-lembar tisu dari kotaknya.
Khawatir? Takut? Pasti. Ditambah lagi dengan bermacam
pertanyaan yang simpang siur di kepala. Berbagai dugaan dan seribu kata
“mungkin” yang berseliweran dipikiran. Juga seribu penepisan, lalu harapan
bahwa semua akan berakhir. Semua akan baik-baik saja seperti semula. Seiring
suara batin, “Ya Allah, mohon tolonglah suami saya. Ya Allah, hanya Engkau yang
bisa menolong…”
Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan saat itu. Saya
lupa bahwa sebelum itu saya adalah seorang yang mudah galau dan kadang meragu.
Entah dari mana saya mendapatkan ketenangan seperti itu.
Padahal di rumah saya dijuluki “Mrs Panic” karena seringnya saya nervous
menghadapi hal-hal yang terjadi di luar rencana dan kebiasaan. Tengah malam
itu, hanya saya yang harus menolongnya. Tak mungkin berteriak dengan panik dan
histeris, lalu membangunkan anak-anak untuk membersihkan tetesan-tetesan merah
di lantai atau menjumput gumpalan darah yang tidak bisa melewati saringan
pembuangan di bak cuci. Juga mengemasi kapas dan tisu bernoda darah yang hampir
sekantong plastik penuh, kemudian mengucek kausnya yang terciprat noda merah
darah. Sungguh tak terbayangkan saya bisa melakukan itu tanpa rasa jijik atau
miris. Padahal dilain waktu, untuk melihat video operasi caesar yang
berdarah-darah di medsos pun saya tidak sanggup.
Kekuatan yang tidak saya sangka bahwa saya punya, terasa lagi
keesokan harinya. Itu ketika berada di ruang praktek dokter, saat darah kembali
mengucur dari hidung orang yang saya cintai.
Haruskah saya ikut menangis melihat seseorang yang menjadi
tumpuan selama ini menitikkan airmata menahan sakit manakala dua buah tampon
disurukkan ke lubang hidungnya demi menghentikan pendarahan? Tidak mungkin.
Jalan satu-satunya, saya harus lebih kuat daripada dia saat itu… Sampai
setelahnya, terpikir oleh saya bahwa saat itu saya bagaikan makhluk tanpa
perasaan. Saya ketika itu, bukan saya yang biasanya…
Itukah yang disebut inner strength? Seperti yang berkali-kali
dia katakan saat memotivasi tiga jagoan kami? Bahwa seringkali kemampuan sejati
manusia itu seperti fenomena gunung es di tengah laut. Hanya sedikit yang
terlihat di permukaan air, padahal ada bongkahan yang jauh lebih besar yang
tersembunyi dan tak terlihat di bawah permukaan laut… Dan dalam keadaan
terpojok dan terpaksa, sebagian orang
mampu mengeluarkan kemampuan sejatinya. Lalu setelah semua terjadi dan
berlalu, orang pun baru menyadari bahwa “ternyata saya bisa”... “ternyata saya
lebih kuat dari yang saya kira selama ini”. Inner strength.
Pondok Gede - 25022016
Sabtu, 12 Desember 2015
Ranah Seribu Bukit
Nagari sunyi. Desa ini amatlah indah. Sekelilingnya adalah gunung dan ngarai. Sejuk, meski kata ibu mertuaku sudah tak sedingin dulu. Pagi, aku masih melihat kabut mengambang diatas persawahan. Disisi lain, gunung Singgalang memancarkan warna keemasan pada tubuhnya karena curahan sinar mentari pagi. Sementara gunung Marapi lebih sering bersembunyi dibalik awan. Allahuakbar, lengkap sudah pemandangan dan suasana langka yang tak mungkin kami temui di Jabodetabek....
Di nagari ini, rasanya jarum jam berputar lebih lambat.... Hening. Sehening dan sediam rumah-rumah kayu yang sebagian besar ditinggalkan oleh pewarisnya merantau. Entah ke Padang, Medan, Jakarta.... bahkan kelain benua. Dan tinggallah rumah-rumah itu dalam sepi... Jendela kaca berbingkai kayu, berhias tirai putih itu mungkin hanya sesekali terbuka. Mungkin disaat liburan panjang atau kala dilaksanakan perhelatan adat... Setelah itu, jarum jam kembali bergulir pelan, tak secepat jarum jam dirantau.
Maka tinggallah desa ini bersama para penghuni. Datang dari sebelah, yang kadang pula tak berakar. Sementara pemilik akar telah menyebar kesegala arah... Tidakkah itu disayangkan? Nagari yang sepermai ini ditinggalkan dalam sepi... Sementara dibalik sana ada manusia lain yang begitu ingin berurat dan berakar disini....
Singgalang, Marapi, tebing-tebing ngarai... Mereka adalah saksi dan penjaga sebuah nagari sunyi... Indah permai, tapi ditinggalkan. Bersendiri dalam naungan dingin dan kabut...
Koto Gadang / 01062014
Jumat, 24 Oktober 2014
Mahabharata : KUNTI
HATI IBU (1)
Dalam pekat malam, gelap seperti tak
berarti lagi. Bukan karena malam ini menjelang pagi, tapi kobar api upacara
untuk prajurit yang gugur itulah yang membuat terang padang gersang ini. Aku
menatap nyala api yang terdekat dengan ujung tanah bukit tempatku berdiri.
Disana, ditengah kobaran api itu, ada tubuh kukuh yang hanya beberapa saat dan
beberapa kali bisa kubelai, namun kurindukan sepanjang hidupku. Tubuh itu,
adalah anakku... Dia perlaya menjelang senja tadi.
Dan entah mengapa, aku tahu, aku tidak
menangis lagi. Mungkin airmataku telah kering, habis tumpah di senja tadi
ketika kudapati ia terbaring luka di atas tanah padang yang berdebu dengan
nafas tersisa satu-satu... Lalu makin deras tangisku, kala aku harus berani
mengungkapkan rahasia yang kusimpan rapat kepada lima lelaki lain yang
menatapku penuh tanya.
"Ya, dia ... Dia anakku. Dia kakak
tertua kalian...," kataku akhirnya. Tak ada lagi gemetar di bibirku, tak
ada rasa takut menghadangku. Aku bahkan tak peduli lagi apa kata mereka tentang
diriku dan masa laluku. Yang kutahu, hanya airmata yang makin deras mengucur.
Disela mata yang berkabut, aku melihat lima anak yang selalu bersamaku
tertunduk dengan wajah pucat.
Dan anakku yang tak pernah bersamaku makin
hilang seri wajahnya, kian redup matanya, tapi masih ada senyum lembut terkilas
di bibirnya. Setitik air mataku jatuh di dahinya, di kepala yang tergeletak
dipangkuanku... Seketika aku ingin berteriak! Melepaskan beban rahasia yang
kutanggung sendiri selama ini dan penyesalan atas ketidakberanianku
mengungkapkan kebenaran kepada lima anakku pada awal waktu...
Jika saja, seandainya keberanianku telah
mencapai puncaknya waktu itu... Mungkinkah kejadian akan berbeda dari saat ini?
Dan jika kebenaran itu kusampaikan waktu itu, adakah mereka akan percaya?
Adakah dia, yang kuingkari keberadaannya demi nama baik dan kehormatanku, akan
percaya begitu saja? Akankah kebenaran itu menjaganya dari kematian ditangan
saudaranya sendiri?
Oh, anakku... Seribu kali aku meminta maaf
kepadamu atas ketidakhadiranku dimasa lalumu. Tatkala ibumu seharusnya berada
disisimu, lalu dimana aku saat itu? Kubiarkan nasib mempermainkanmu... Membawa
dirimu ke tempat yang tidak seharusnya... Dan batinmu menderita dalam
kegamangan sepanjang hidupmu. Darah ksatria dan Dewa Surya yang mengalir dalam
tubuhmu begitu deras menunjukkan siapa dirimu. Tapi begitu banyak pula yang
mengabaikanmu hanya karena kau dibesarkan oleh kalangan rakyat biasa... Dan itu
karena kesalahanku!
Tapi tahukah kau, anakku... Hatiku, hati
ibumu ini tak pernah lepas darimu. Kasih sayang yang menjadi hakmu, yang
tersekat dan terhambat, menjadi derita yang kusimpan diam-diam... Dan tahukah
kau, aku mencatat dengan sepenuh hati menit demi menit, saat demi saat ketika
aku pertamakali melihatmu dijelang masa remajamu di Hastinapura, hingga saat
terakhirmu di padang Kurukhsetra ini.
Setelah
kematian Raja Pandu
Hari itu, aku dan lima adikmu kembali
menapakkan kaki ke Hastinapura. Setelah sekian tahun kami tinggal di hutan
mengikuti Raja Pandu, ayah adik-adikmu, mengasingkan diri dan meletakkan
mahkota Hastipura setelah jatuhnya kutukan seorang Resi kepadanya.
Tiga adikmu telah menjelang remaja saat
itu. Juga si kembar buah hati dari ibu Madri yang harus menjadi tanggung
jawabku sejak ibunya memutuskan melakukan "labuh geni" bersama
jenazah Raja Pandu, suami kami, ayah dari lima adikmu. Andaikan kau ada bersama
kami, nak... Akankah beban hatiku saat itu menjadi lebih ringan? Akankah segala
kelebihanmu mampu menjadi penjaga kami semua?
Anakku, masih sangat kuingat. Ketika kami
menapak gerbang kerajaan, rakyat Hastinapura berkerumun sepanjang jalan
menyambut kedatangan kami yang baru kembali dari pengasingan diri...
Tiba-tiba dari kerumunan itu muncul sesosok
tubuh yang menyeruak maju menghadap ke arahku. Seorang pemuda tampan. Matanya
menatap tepat kemataku. Ah, mata itu, seperti helai kelopak lotus. Dan entah
mengapa, aku tak hendak berpaling darinya, terasa seperti ada tali tak berwujud
yang mengikatku untuk terus berdiri diam menatap wajahnya. Ada rasa sedih dan
sakit yang mengaliri hatiku, menambah beban kedukaanku yang telah semula ada
karena kematian Raja Pandu. Siapakah pemuda itu?
Rakyat Hastinapura yang semula hanya
berdiri menyambut kami, satu persatu mulai berebut mengunjukkan sembah. Lalu
pemuda itu secara tak terduga berlutut menundukkan kepala dan tangannya
menyentuh ujung kakiku, memberikan penghormatan kepadaku. Aku takjub menatap
kepala berambut coklat tua berkilau yang tunduk didepanku. Dan, aku tak kuasa menahan
tanganku untuk menyentuh kepala pemuda itu untuk mendoakannya. Tahukah kau,
nak, apa yang kurasakan saat itu? Aku seperti menemukan sesuatu, tapi aku tak
paham apakah itu. Inginnya aku sejenak lebih lama lagi meletakkan tanganku
dikepala pemuda itu. Tapi keinginanku serentak luruh dengan ajakan lima anakku
untuk terus berjalan menuju istana.
Nak... Beberapa saat setelah aku beranjak
dan berlalu, dihatiku timbul pertanyaan yang tak bisa kujawab. Dan aku tak tahu
kepada siapa aku harus bertanya. Dirimukah pemuda itu, anakku? Tapi mungkinkah
kau berada di Hastinapura, sedangkan waktu kelahiranmu aku berada jauh dari
sini? Pertanyaan itu tak pernah terjawab olehku sendiri. Hingga suatu
hari, untuk kedua kalinya, bertahun-tahun setelah itu, aku kembali melihatmu.
Rangbhoomi
di Hastinapura
Anakku, inilah kali pertama aku melihatmu
setelah dewasa dan kali ini pula aku menyadari bahwa kau adalah pemuda yang
sama yang kutemui di gerbang istana bertahun-tahun yang lalu! Ya, Dewa Surya
telah memberikan tanda kehadirannya padaku dalam bentuk seorang bayi lelaki,
yaitu kau, anakku.
Aku memohon maafmu, Nak... Karena
kelahiranmu saat itu sungguh membuatku tak bisa berpikir dengan jernih. Aku,
dalam usia remaja, bahkan belum bersuami, tapi dihadapkan pada kenyataan bahwa
aku memiliki seorang putra. Kau bayi yang tampan... Lahir dengan anting
ditelinga dan perisai yang menyatu dengan tubuhmu. Dewa Surya ternyata memenuhi
permintaanku agar putra anugrahnya memiliki sesuatu yang menandakan bahwa
engkau adalah anakku.
![]() |
| sumber : Starplus |
![]() |
| sumber : Starplus |
Tapi, seelok apapun dirimu, nak... Maafkan
kelemahanku yang merasa pasti tak sanggup menghadapi pertanyaan yang muncul
karena kehadiranmu tanpa seorang suami disisiku. Akan terlalu banyak yang
terluka karena kebodohanku mencoba menggunakan mantra dari Resi Durwasa. Ayahku
sebagai raja, citra kerajaan Kuntibhoj, dan diriku sendiri.
Maafkan aku, nak. Saat itu ibumu yang dungu
dan naif ini terpaksa mengambil cara yang kejam untuk menutupi kehadiranmu.
Hatiku menangis perih kala engkau berada dalam buaianku. Engkau tetap anakku,
meskipun hanya berbilang jam dan hari aku sempat menimangmu. Menetes deras
airmataku ketika aku meletakkan tubuh mungilmu dalam keranjang yang kualasi
tilam beludru dan kurangkum bunga lotus disekeliling tubuhmu.
Pagi itu, aliran sungai Aswa akhirnya
membawa keranjang berisi tubuh mungilmu pergi menjauh dariku. Selayak
membersihkan namaku dan kehormatanku sebagai putri raja... Aku mencintaimu,
anakku. Tapi aku tak bisa bersamamu. Semoga kelak engkau ditemukan oleh manusia
berbudi yang mengasihi, menyayangi dan mendidikmu menjadi lelaki sejati... Aku
menangis menatap keranjang yang makin jauh terbawa arus sungai.
Dan sekarang, di arena Rangbhoomi, aku
meyakini bahwa pemuda yang muncul tiba-tiba itu adalah dirimu. Kau elok dan
tampan, anakku. Dewa Surya telah bermurah hati memberikan tanda-tanda
kegemilangannya pada dirimu. Tubuhmu kukuh dengan kulit hampir sewarna tembaga.
Wajah tampanmu berkilau dengan mata secerah kelopak lotus, rambutmu tergerai
jatuh di bahu yang lapang menatap dunia. Dunia yang ternyata tak berpihak
padamu.
Seperti singa gunung kau tiba-tiba muncul
di tengah arena. Menantang salah seorang ksatria yang sebenarnya adalah adikmu
sendiri. Aku hampir berteriak menghentikan adu tanding antara kau dan adikmu.
Terlebih ketika adikmu, Arjuna, menghujanimu dengan anak panah. Tapi semuanya
tertahan oleh perisai yang bersinar seperti emas dan melekat didadamu. Tak
mungkin. Tak boleh terjadi. Tapi kemudian aku tak ingat apapun, tubuhku lunglai
dan pandanganku menghilang.
Aku terjaga dari mati suri dengan hati yang
sakit. Dalam tidurku aku melihatmu tersenyum memandangku. Oh, anakku, maafkan
ibumu... Mendekatlah padaku, nak. Aku ingin memelukmu, mendendangkan senandung
pengantar tidurmu. Sesuatu yang belum pernah kulakukan sebagai ibumu. Tanganku
terulur menggapaimu, mengharapkan kau datang dalam rengkuhanku. Tapi tiba-tiba
kau lenyap dan aku berteriak memanggil namamu hingga aku terjaga dengan hati
perih.
Selasar
Istana Hastinapura
Aku berjalan setengah berlari kearahmu. Oh,
kau harus tahu, nak. Aku adalah ibumu! Kau adalah saudara tertua bagi kelima
adik-adikmu. Aku harus mengatakan ini padamu. Ketika aku menyebutkan namamu,
engkau menghentikan langkah dan berbalik menghadapku. Lalu dalam hitungan
detik, aku terpukau.
Oh, anakku, Dewa Surya telah memberikan
kemilaunya padamu dengan nyata dalam pandanganku, terlebih dengan pakaian
kebesaran raja, mahkota dan uttariya keemasan yang kau sandang.
"Ibu Ratu..," sapamu sambil
mengunjukkan tanda hormat. Aku kehilangan kata-kata. Semua kata yang telah
kususun menghilang entah kemana. "Sejak pertama kali aku melihat Ibu Ratu,
aku selalu teringat pada bunga lotus dan ingin mempersembahkannya kepadamu," katamu lagi sambil meletakkan
lotus itu di depan ujung kakiku. Ah, aku bahkan tak sempat melihat kapan kau
melangkah memetik bunga itu...
![]() | ||
| sumber : Starplus |
Lima adikmu kemudian muncul dan berdiri
diselilingku, memutuskan kebisuan yang menghinggapi diriku sejak pertama
berhadapan denganmu. Selanjutnya hanya kata-kata bernada permusuhan dan ancaman
yang terlontar diantara kalian. Kau disatu pihak dan lima adikmu dipihak
lainnya. Adikmu dengan kalimat penghinaan karena kau bukan bangsawan seperti
mereka. Bahwa kau hanya seperti seekor itik yang ingin menjadi seekor merak,
kata mereka. Dan kau pun dengan arogan berucap bahwa kau akan sanggup
mengalahkan ksatria dan bangsawan manapun termasuk lima lelaki yang berada
disekelilingku. Arjuna adalah adikmu sendiri yang kau beri sumpah, bahwa dalam
pertempuran kelak, anak panahmu akan mengejarnya sampai kemanapun. Perang
kata-kata itu berakhir dengan kaki adikmu yang sengaja menginjak dan melumatkan
bunga lotus yang tadi kau persembahkan padaku.
Bersusah payah aku menahan tangis demi
melihatmu hanya terpaku memandang bunga lotus yang sudah tak berbentuk karena injakan
kaki adikmu. Seharusnya aku bersuara, berkata dengan tegas kepada lima adikmu
bahwa sebagai ksatria, tak selayaknya mereka berlaku sedemikian rupa. Terlebih
engkau adalah saudara tertua mereka. Tapi selagi aku menyusun kekuatan untuk
menyuarakan itu, adikmu telah merengkuhku untuk meninggalkan dirimu yang hanya
bisa memandangku dari kejauhan. Hatiku menangis lagi. Nak, semoga kau bisa
menerima kata hatiku bahwa aku adalah ibu yang melahirkanmu...
Keberangkatan
ke Wanamarta
Untuk kesekian kali, kembali aku bertemu
dan berhadapan denganmu, anakku. Begitu dekat. Aku bahkan bisa mendengar isakmu
yang tertahan dan melihat matamu berkaca-kaca lalu mengalirkan airmata. Apa
yang ada di benakmu saat itu, hingga kau mengucurkan airmata untukku?
Hari itu, aku dan adik-adikmu meminta diri
kepada Raja dan Ratu Hastinapura, kepada petinggi kerajaan dan kerabat istana.
Kau hadir disana, tentu sebagai kerabat, karena atas prakarsa Putra Mahkota
Hastinapura engkau telah dinobatkan sebagai Raja Angga.
Aku mengerti betapa Putra Mahkota sangat
terkesan pada kemampuanmu melawan adikmu di arena Rangbhoomi. Saat begitu
banyak orang yang tak memandang kemampuanmu bahkan menghinakanmu karena kau bukan bangsawan, Putra Mahkota
Duryodhana membela dan seketika itu juga menobatkan dirimu sebagai Raja Angga.
Itukah yang membuatmu akhirnya mengangkat sumpah setia kepada Putra Mahkota?
Tapi tahukah kau, Nak, seperti apa perilaku Putra Mahkota terhadap adik-adikmu?
Ia telah menempatkan diri sebagai musuh adik-adikmu. Dan kini kau berada di
pihak mereka untuk menghadapi adik-adikmu sendiri?
Jauh dihati aku menyadari bahwa aku punya
peran besar yang tidak kau mengerti. Kebimbanganku untuk terus menutup rahasia
kelahiranmu, itu yang menempatkan dirimu pada tempat yang salah. Jiwa ksatria
demikian kental pada darahmu. Namun lingkungan tempat kau dibesarkan tidak
memperkenanmu untuk itu. Kepahitan demi kepahitan kau terima ; Penolakan Guru
Drona untuk menerimamu sebagai murid karena kau seorang sudra. Kau pun harus
menyembunyikan jatidirimu agar bisa menjadi murid Resi Parashuram, dan akhirnya
membuahkan kutukan pada dirimu. Nasib dan kepahitan hidupmu adalah karena aku.
Lalu bagaimana aku harus meluruskan kesalahan yang telah terjadi sekian lama?
Dan kini, mengapa kau meneteskan airmata di
hadapanku, Nak? Bukankah kau sekarang adalah Raja Angga, putra Adhirata dan
Radha? Bukankah aku belum membuka jatidirimu dan mengungkap siapa aku bagi
dirimu? Lalu mengapa kau menangis seakan aku adalah orang yang sangat berarti
bagimu?
Ketika aku tiba di depanmu, engkau seperti
biasa menghaturkan sembah penghormatan dengan menyentuh ujung kakiku. Aku
terpana saat kau bangkit dengan airmata tergenang di sudut matamu. Tanganku
terulur begitu saja menyentuh sisi wajahmu, dan aku tak hendak menahan laju
gerak tanganku ini untuk menyentuhmu. Kau anakku! Dan cinta seorang ibu kepada
anaknya demikian penuh membuncah di hatiku.Tak bisa menipu.
![]() |
| sumber : Aham Sharma FC |
"Semoga engkau tetap melangkah di
jalan kebenaran. Karena kekuasaan itu seperti merkuri yang bisa melarutkan emas
kebaikan..." Itu yang kukatakan kepadamu. Karena sejujurnya, aku sangat
menyayangkan dirimu yang berada dilingkaran hidup Putra Mahkota. Sedangkan aku
tahu, Adhirata dan Radha telah memberikan bekal nilai-nilai dharma kepadamu
meskipun kau bukan putra kandungnya. Dan pada saatnya nanti, aku harus
mengucapkan terima kasih kepada mereka.
Tanganku masih menyentuh sisi wajahmu
ketika airmata menetes dan mengalir dipipimu. Apa yang sebenarnya terjadi pada
dirimu, nak? Demikian besarkah kesedihanmu yang tak dapat kuketahui dan
kumengerti? Setetes airmatamu bahkan jatuh di depan ujung kakiku. Aku kemudian
melangkah meninggalkanmu dengan ketidakmengertian. Kereta dan adik-adikmu telah
menungguku untuk segera menuju Wanamarta. Diatas kereta, airmata dan wajah
sedihmu masih terbayang olehku. Tak terasa airmata mengalir membasahi pipiku.
Saat aku menoleh ke tempatmu berdiri, kau masih tegak menatap kearahku. Tetap
dengan wajah sedihmu yang sama sekali tak kumengerti. Dalam kebutaan hatiku
untuk memahami kedukaanmu, aku merasa tersanjung oleh airmatamu, Nak. Kau harus
tahu itu...
Jauh sesudah kejadian itu, setelah aku dan
adik-adikmu selamat dari istana di Wanamarta yang terbakar dan kembali ke
Hastinapura, aku baru memahami arti kesedihanmu kala itu. Aku yakin, sebagai sahabat
Putra Mahkota kau mengetahui rencananya namun kau tak mampu mencegahnya dari
pengaruh paman Shakuni. Dan itu kiranya yang menjadikan kesedihan dan airmata
pada dirimu saat keberangkatanku dulu... Saat kami kembali ke Hastinapura, aku
melihat wajahmu bersinar dan sekilas senyum lembut ketika pandanganku bertemu
denganmu. Nak, betapa aku berbahagia karenanya ; Kebajikan masih tinggal dalam
dirimu...
Gerbang
Batas Hastinapura
Hari itu, aku mendengar terjadinya
kericuhan di gerbang batas kerajaan Hastinapura. Ratusan rakyat Hastinapura
yang hendak berpindah ke Indraprastha tidak diijinkan pergi. Gerbang ditutup
dengan paksa sehingga beberapa keluarga tercerai berai karenanya. Sebagian
telah berada di luar gerbang, dan sebagian lagi tertinggal di dalam Hastinapura.
Dan aku mendengar, bahwa engkau yang ditugaskan untuk menutup paksa gerbang itu
bersama seorang adik Putra Mahkota, Pangeran Dushasan.
Dorongan hatiku yang membuat aku ingin
segera berada di tempat itu, terlebih setelah aku mendengar kau ada disana. Aku
tiba disana ketika engkau sedang berdebat dengan seorang gadis. Mungkin ia
salah seorang penduduk Hastinapura yang ingin agar diijinkan keluar gerbang
menuju Indraprastha.
| sumber : Google |
Aku mendengar sebagian kata-kata gadis itu
padamu, bahwa tidak hanya pada diri manusia terletak ketidakbenaran, tetapi
juga pada mahkota yang dikenakannya. Gadis itu bijak dan berani. Ia berjalan
menuju pintu gerbang tanpa mempedulikan seruan dan ancamanmu. Ah, aku mendengar
kau menyebut nama gadis itu, Vrushali. Pastinya kau telah mengenal gadis itu
bukan? Lalu mengapa aku melihat wajahmu seperti tak yakin dengan apa yang kau
serukan, Nak? Kau seperti ragu-ragu dengan tindakanmu sendiri.
Aku mengerti kau berada dalam kebimbangan.
Kau tahu makna kebenaran, tapi kau harus melaksanakan perintah sesuai dengan
sumpahmu dan kedudukanmu sekarang. Saat itu juga aku berpikir bahwa aku harus
membantumu menentukan sikap. Aku turun dari kereta seraya menyebutkan namamu.
Kau menoleh lalu memandang tepat ke arah mataku, dan aku melihat wajahmu yang
terkejut. Gadis itu, Vrushali, juga berbalik dan memandangku dengan takjub.
Aku mengatakan padamu bahwa memisahkan
seorang anak dari keluarga, terutama ibunya adalah tindakan salah dan aku
memintamu untuk tidak melakukan itu. Oh, nak....tahukah dirimu, bahwa aku
mengatakan itu juga untuk diriku sendiri? Aku ibu kandungmu, tapi aku juga yang
merenggutkan dirimu dariku dengan sengaja. Ada rasa malu dan pedih yang
menyerang perasaanku saat itu. Tapi engkau mengangguk mendengar pintaku dan
memerintahkan tentara kerajaan agar menyingkir dari sisi Vrushali. Pangeran
Dushasan memprotes tindakanmu, tapi dengan tegas kau berkata ;
"Jangan mendebat, Pangeran. Ini adalah
perintah Ibu!"
Oh, hatiku berdesir mendengar kau
menyebutkan kata "ibu" untuk kata ganti diriku, bukan "Ibu
Ratu" seperti sebelumnya. Seandainya... Seandainya pun kau memanggilku
langsung dengan sebutan itu, aku tak akan menolak, Nak. Karena kau memang
anakku!
Kau lalu menunduk dengan wajah memerah.
Sekilas aku melihat matamu berkaca-kaca. Aku memutuskan kemudian bahwa gadis
itu dalam perlindunganku di Hastinapura, dan pada saatnya nanti akan berangkat
bersamaku ke Indraprastha. Dibalik itu, sungguh aku ingin agar kau menjauh dari
lingkaran kekuasaan Putra Mahkota agar kau terbebas dari dua kutub yang saling
berseberangan. Maka aku hanya bisa meninggalkan kata-kata untuk menguatkan agar
kau tetap ingat dan berada di jalan kebenaran. Kau hanya terdiam mendengar
pesanku yang kusampaikan dengan suara bergetar. Kemudian aku beranjak menuju kereta
bersama Vrushali, meninggalkanmu yang berdiri di gerbang istana dengan wajah
memerah dan mata berkabut. Pasti kau tak tahu, bahwa saat itu hatikupun
merasakan perih ; Karena kesalahanku maka saat ini kau terjebak berada di
tempat salah. Dan aku kembali menyesali ketidakberanianku mengungkap kebenaran
jatidirimu. Maafkan ibumu, nak...
Selayaknya seorang ibu. Meskipun aku adalah
ibu yang melahirkan dirimu tanpa pernah kau tahu, aku tetap menginginkan yang
terbaik untukmu. Betapa ingin aku melihatmu menjauh dari lingkungan para
Kurawa. Betapa khawatirnya diriku jika kebenaran yang kau miliki luntur karena
kedekatanmu dengan mereka.
Tapi dengan sumpah yang telah kau ucapkan
kepada Pangeran Duryudhana, mungkinkah kau akan sanggup berpaling mengkhianati
janjimu? Atau, jika kau tahu kebenaran jatidirimu yang selama ini tersimpan
rapat padaku, akankah itu mampu mengalihkan pendirianmu? Tapi yang terpenting adalah, kapan aku memiliki
waktu dimana aku mampu berkata jujur kepadamu? Aku menyadari kemudian bahwa aku
tak lebih dari seorang pengecut. Kumohon kau mau memaafkan untuk itu... (to be
continued)
Rawamangun
- 23102014
*)
Diceritakan kembali, berdasarkan tayangan serial Mahabharata versi Starplus
India.
Langganan:
Postingan (Atom)









